https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI: 2015

Cari:

Selasa, 20 Oktober 2015

Organ Cantikmu

Aku tak bisa menutup harimu tanpa sedikit saja lirik memujimu untukmu di esok pagi.
Tatap mengagungkan organ indah itu.
Terimakasih..
Aku puas memandangnya sehari tadi.
Aku senang menatapnya lama sehari tadi.
Terimakasih untuk rindu yg kau perbolehkan untuk kulepaskan.
Dan terimakasih untuk rindu yg akan hadir sesudahnya.
Yg aku yakin akan lebih hebat.
Tertidurlah kini.
Buat organ itu terpejam sejenak.
Buat dia tenang sesaat.
Salam malam untukmu saat ini.
Salam pagi untuk organ itu esok hari.

Beginning of the Day

Aku menuliskan sajak ini ditengah kegaduhanku. 
Menuliskannya disaat kegusaran terhebatku. 
Ditengah guruhnya polemik dalam benakku. 
Dan dicelah antara pilihan untuk menyerah. 
Dan selangkah lagi untuk memilih pasrah. 
Saat ini semua bak musuh. 
Semua ibarat puas limpahkan ketidak-adilan dipundakku 
Sendiri dan sepi. 
Ibarat tak berikan tempat mengadu.
Ingin bercerita.
Namun tak kuasa.
Jikapun kuasa takkan ada yang mau mendengarkan.
Dosa hebat apa yang dulu pernah terjadi hingga karmanya kupikul kini.
Hampir murka pada Tuhan.
Nyaris menbenciNYA.
Aku lelah.
Aku letih Tuhan.
Namun aku tak berniat berhenti.
Makhluk manis itu sajalah yang mampu membuatku berdiri.
Masih ada sukur untukMU atas hadirnya.
Terimakasih Tuhan atas adanya.
Atas kesempurnaanMU yang masih kurasa dalam dirinya.
Sepertinya hanya dia sajalah yang ada dipihakku kini.
Makhluk manis itu kekasihku.
Dia perempuanku.
KAU hadir dalam bentuk keindahan pada sosoknya.
Dan hanya karena dia sajalah aku masih mau untuk bangkit.
Dan kemudian akan kucoba melangkah untuknya.
Dan berniat berlari meski letih tertatih.
Terimakasih Tuhan.
Terimakasih sayang.
Aku akan berlari.
Ya..
Aku akan berlari.
Lihat saja. 

Untuk Inikah Sebenarnya Aku Disini?

Hampir rapuh. 
Hampir tak tertempuh. 
Semua kian hambar. 
Kian tak kumengerti. 
Untuk inikah sebenarnya aku harus ada disini? 
Untuk menerima sakit hati yang kian hari kian menyayat ini? 
Untuk kebingungan yang harus kuterima setelah aku disini? 
Apakah memang iya aku disini malah menjemput ketidakpastian? 
Apakah aku dikirim kesini memang untuk jauh darimu dan hatimu?
Setahuku..
Aku ingin memperbaiki semua maka aku disini.
Setahuku..
Aku ingin semua yang kujaga menjadi indah nantinya maka aku disini.
Selingan kata lewat maya kuusahakan ada perkuat rasa agar tak berubah.
Bahkan banyak upaya lewat kata yang terucap agar semua semakin baik.
Tapi mengapa malah begini.
Malah makin kacau.
Malah begini hasil usahaku.
Ada apa sebenarnya?
Aku suram makin tak mengerti.
Tempatku ini malah bagaikan neraka saat ini.
Untuk apa sebenarnya aku disini???
Untuk inikah sebenarnya aku disini?

Seperti Saat Ini

Biarkan aku mencintaimu. 
Seperti ini. 
Seperti sekarang ini. 
Ya, seperti saat ini. 
Aku senang sedang memilikinya. 
Aku tenang sedang mengalaminya. 
Memiliki rasaku yang menyamankanku. 
Memiliki cintaku yang menyempurnakanku. 
Kau sempurna sayang.
Untuk porsiku kau lebih daripada cukup.
Mengenalmu lalu mencintaimu adalah sesuatu yang indah.
Dan mukjizat saat nanti memilikimu.
Terimakasih telah kutemukan.
Terimakasih telah mau kusayangi.
Dan terimakasih karena bersedia menyayangiku.

Bising Namun Hening

Memudar usang dan tak terawat. 
Terabaikan dan tak terpelihara. 
Jika masih ada, biarkanlah.. 
Dan jikalau sudah musnah tak mengapa. 
Semua pun kembali normal lagi. 
Kembali kesedia kala. 
Tak ada lagi deguban jantung yang menggebu. 
Tak ada telapak tangan yang keringatan. 
Tak ada rasa takut.
Tak ada harapan.
Sirna seiring hari yang terlewat.
Datar..
Bahkan kian datar.
Kemarau itu tak lagi inginkan hujan.
Biarkan sajalah.
Toh aku bahagia dengan kemarauku.
Sudut itu pun akhirnya kembali menjadi sahabatku.
Jadi satu tempat terfavoritku lagi saat ini.
Karena aku akan menjadi diriku sebenarnya saat berada disana.
Hanya disana aku bisa melakukan apa saja yang memang ingin kulakukan.
Tak ada dirimu yang kian jauh.
Tak ada kalian.
Tak ada masalah-masalahku yang menyesakkan itu.
Biasanya..
Aku akan merenung setibanya disudut itu.
Lalu menangis.
Kemudian berteriak.
Dan akhirnya tertidur karena lelah.
Tersudahi sejenak sesak beban dibenak.
Meskipun saat terbangun nanti aku yakin itu akan muncul kembali.
Dan saat ini, saat tulisan ini kubuat.
Aku baru saja berteriak.
Hanya kali ini lewat tulisan.
Bising namun hening.
Untuk siapa saja yang membacanya.
Meski bukan ditelingamu.
Sudahlah aku lelah.
Aku ingin tidur saja.

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3