https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI: 2017

Cari:

Sabtu, 28 Oktober 2017

Maaf, Aku Tak Sengaja

Aku tidak sengaja menyukaimu.
Ini bukan sesuatu yang kurencana di dalam kamarku semalaman.
Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu.
Dan ketika kamu balik melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing terjauh yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga agar kamu tidak tahu aku sedang memandangimu.
Aku takut kamu marah walau sebenarnya kamu selalu tersenyum jika mendapatiku baru saja memandangimu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu.
Itu lebih berharga dibanding berada satu momen dengan Obama sekalipun.
Aku tidak sengaja memiliki sesuatu yang ingin sekali kuceritakan denganmu namun tidak tahu harus memulainya darimana.
Aku tidak sengaja selalu mengundur mengatakannya setiap momen tepat itu datang.
Aku tetap selalu tidak siap meski sudah merencanakannya semalaman dengan sangat sangat matang.
Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama.
Contohnya di Perpustakaan. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus.
Jadi kumohon, buku novel itu dan charger handphone yang kupinjamkan itu jangan kembalikan bebarengan.
Aku rela musti harus berantam dulu dengan teman sekamarku tiap meminjam casan hapenya dan selalu berbohong soal novel miliknya itu.
Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya.
Ketahuilah, disini masih banyak novel bagus milik teman sekamarku.
Semuanya tidak sengaja beralasan begitu saja agar kita tetap bisa bertemu.
Aku tidak sengaja mengaktifkan zat phenylethylamine di dalam sistem otakku saat dekat kamu.
Dan itu memicu euphoria.
Perasaan menyenangkan yang riuh.
Terpicu begitu saja.
Aku bisa merasakan darah mengalir deras di tubuhku, bolak balik seperti angkot yang tidak mau ngetem.
Bahkan ingin sekali aku meminjam rompi anti peluru-nya si Silvester Stallone di pilem Expandebles agar deguban jantungku tidak terlihat dari luar kemejaku.
Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku.
Hal ini memaksa otakku agar kreatif membuat lebih banyak lelucon lagi untuk kamu.
Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja yang kamu daratkan di perutku.
Ini, aku masih punya dada, pundak, lengan bahkan pipi untuk tempat kamu mencubit sesukamu.
Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu.
Aku benci ketika bersama kamu kita terjebak dalam momen hening.
Aku tidak sengaja merasakan dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, selalu singkat, seolah kebersamaan kita begitu menakutkan bagi waktu.
Aku bahkan tidak sengaja tersakiti saat mendengarmu menceritakan soal dia.
Iya, soal laki-laki itu.
Sakit itu teramat aneh, aku tidak tau cara mengendalikannya.
Aku bahkan tidak sengaja menjadi sangat membenci laki-laki itu maski kusadari dia tidak memiliki salah apa-apa padaku.
Ini aneh dan ada begitu saja.
Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan.
Ah, aku tidak sengaja terus membaui wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku itu.
Terus menerus, hingga pagi menjelang.
Bahkan jika harus, aku tidak akan mencucinya.
Handphone-ku adalah benda yang pertama ku-check begitu aku terbangun.
Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya.
SMS-mu yang berbunyi "Met pagi, udah bangun belum?" itu jauh lebih penting dari semua SMS yang masuk ke inboks pesanku.
Meski selalu sama ditiap paginya.
Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.
Hariku akan buruk jika dalam sehari itu aku tidak memandangi hidung pesekmu barang semenit pun.
Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari.
Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.
Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik.
Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit dan kompleks, ataukah alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?
Aku tidak sengaja menjadikanmu "sebab" dalam setiap "mengapa" yang bermuara di benakku.
Sekali lagi maafkan aku, aku tidak sengaja.
Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.
Aku tidak sengaja mencintaimu.

Rabu, 18 Oktober 2017

Aroma Itu.. Dia Pasti Kekasihku

Tertegun aku.
Kuhentikan sejenak tatapku pada kekasihku.
Kemudian berdiri mencoba menyelidiki sesuatu dengan tatapanku.
“Aroma itu” Gumamku.
Sebuah wangi yang tak asing.
Wangi khas gadisku dimasa lampau.
Wangi yang memang hanya dia pemiliknya.
“Disinikah dia kini?”
Kulihat kearah kerumunan itu.
Memperhatikan tiap celah lalu lalang orang-orang disana.
“Mungkinkah dia?”
Tak kudapat.
Tak kutemui dia.
Akupun terduduk.
Lalu kugenggam jemari wanita disampingku.
“Kaulah kekasihku kini”
Dia hanya tersenyum bingung.

Minggu, 15 Oktober 2017

Hatiku, Menangislah!

Menangislah, hai hatiku!
Aku tak melarangmu
Kau memang butuhkan itu
Tak selamanya getir dunia tertaklukkanmu
Tak selalu penatnya hidup terpahamimu

Menangislah
Terkadang kelopak matamu memang perlu terairi
Terkadang layak isak itu lampiaskan duka terwakili
Teriakkan jika harus
Gemuruhkan bila mampu duka itu terhapus

Tapi jangan dirundung
Karena harimu tak boleh selalu mendung

Puaskan seketika
Sudahi lalu ambil pelita
Tak layak kau lama menderita
Karena tersedia bagimu lebih banyak cerita

Hatiku, menangislah!
Tak apa
Menangislah!

Minggu, 10 September 2017

Hai, Kau Yang Jauh Disana!

Hai, kau yang jauh disana!
Yang padamu kuletakkan rasa percaya dan cintaku.
Sedang apa?
Apa sedang memikirkanku juga seperti yang kulakukan saat ini?
Aku merindukanmu.
Sangat merindukanmu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Yang terpisah oleh jarak denganku.
Aku tahu kita jauh.
Tapi kau adalah yang terdekat dari apa yang paling dekat denganku.
Jarak ini hanya sementara.
Percaya saja.
Karena aku yakin itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Bagaimana harimu hari ini?
Apakah membosankan?
Mengecewakan?
Jenuh tanpaku?
Hahaaa...
Disini aku juga bosan tanpamu.
Hariku tak pernah luar biasa lagi tanpamu.
Karena kaulah luar biasa-ku.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Bertahanlah.
Karena aku juga bertahan untukmu.
Karena semua mimpi kita terlalu sayang jika kurusak hanya karena rasa bosanku.
Takkan kurusak itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Mimpi itu masih kupegang, kok.
Bahkan sangat erat.
Lebih erat dari balon hijau.
Heheee...
Meski banyak uji mendekatiku.
Banyak sosok yang datang tawarkan kelebihannya.
Bahkan tak bisa kubohongi kalau mereka memang melebihimu.
Tapi tenanglah!
Aku sudah sangat tercukupkan olehmu.
Aku akan berhenti padamu.
Kau mencukupkanku.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Meski tak dapat kusentuh,
Tapi wajah dan suaramu sudah lebih dari cukup untukku menutup hari ini.
Mencandakan hal yang sama berulang-ulang di telepon denganmu, masih menyenangkanku.
Kau adalah hal terakhir yang kupikirkan sebelum aku tertidur.
Senyumku masih tentang kita sesaat sebelum aku menutup mata.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Selamat pagi!
Kau sosok pertama yang kupikirkan begitu aku terbangun tadi.
Iya, kau!
Terima kasih untuk tawa hangat semalam.
Terima kasih untuk caramu yang fokus membuatku tertawa.
Aku suka dan aku tahu,
Kau sungguh mengupayakan segalanya untukku.
Dalam pikiranmu penuh tentang rencana-rencanamu membahagiakanku.
Aku percaya itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana.
Berceritalah jika kau sampai rasakan hal lain atasku.
Karena aku tak bisa menatap bahasa tubuhmu jika aku membuatmu tak nyaman.
Ceritakan denganku.
Bahas segalanya padaku.
Bahkan jika itu tentang keburukanku.
Karena hanya padamu aku berani tampil jelek dan manja.
Hanya padamu aku berani menunjukkan siapa sebenarnya aku.
Si roa balang ini.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Kau tahu?
Aku paling rindu baumu saat ini.
Iya, bau tubuhmu!
Bau yang kurasa hanya kau pemiliknya.
Bau yang membiasakanku.
Yang aku terbiasa menjalani hariku dengannya.
Masih tersisa di boneka ini.
Di boneka pemberianmu yang makin mengempis.
Walau baumu padanya makin pudar, tapi aku masih bisa mengingatnya.
Karena baumu adalah satu-satunya bau yang bisa kuingat.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana.
Berdoalah untukku, untuk kita.
Karena aku juga berdoa untukmu, untuk kita.
Karena hanya dengan Doa, aku paham caraku mencintaimu dari jauh.
Namamu jauh lebih banyak kusebutkan dalam doaku melebihi namaku sendiri.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Terima kasih.
Terima kasih untuk segalanya.
Terima kasih karena telah menemukanku.
Terima kasih karena telah memilihku.
Aku...
Mencintaimu.
Sungguh!

Fri, Sept 08, 17

Minggu, 27 Agustus 2017

Berhati-hatilah, Hati!

Ketika kau memancing ikan...
Kemudian ikan melekat di mata kailmu.
Ambillah.
Jangan lepaskan lagi begitu saja ke air.
Karena ia telah sakit oleh tajam mata kailmu.
Dan ia akan bawa luka itu selama hidupnya.

Pun kau...
Ketika berani katakan cinta.
Setelah beri harap banyak padanya.
Setelah ia mulai berikan hatinya.
Kau harus jaga itu.
Jangan tinggalkan begitu saja.
Karena akan luka ia oleh kenangan itu.
Dan mungkin saja membawanya sepanjang hidupnya.

Jika kau punya lukisan cantik...
Anggap ia perhiasan belaka.
Sekedar saja.
Jangan puja indahnya dengan terlalu.
Karena jika menganggapnya tercantik tanpa cela.
Maka patahlah hatimu saat temukan satu bahagian rusaknya.
Pembuangan akan menjadi tempat akhirnya.
Namun jika saja kau coba perbaikinya.
Mungkin ia akan tetap indah.
Berkuranglah sedikit sakit di hatimu.

Pun kau...
Ketika mengenal seseorang.
Anggaplah ia biasa.
Cintamulah yang jangan biasa.
Indahkan dengan cara berbeda.
Taruh cintamu pada ia dengan apa adanya.
Jangan kagumi dengan terlalu.
Karena jika begitu.
Maka saat sekali saja ia lakukan salah.
Kau takkan terima.
Kau pun murka lantas mengakhirinya.
Padahal jika saja kau maafkan.
Takkan putus bagimu kebahagiaan.
Indah yang mungkin berlebih dari sebelumnya.

Jika tersedia bagimu sepiring nasi.
Yang baik bagimu.
Yang memang kau butuh.
Mengenyangkanmu.
Jangan kutuk kesederhanaannya.
Lantas mencari nasi lain.
Kelezatan lain yang melebihinya.
Sibuk mengupayakan yang lebih nikmat.
Suatu saat...
Dikala kau sibuk dalam pencarianmu.
Mengacuhkan nasimu.
Ia akan termakan waktu dan basi.
Dan tak mungkin bagimu memakannya lagi.
Sesal 'kan kau dapati.

Pun kau...
Setelah bertemu seseorang.
Yang bawa banyak kebaikan padamu.
Yang menaruh segala cintanya atasmu.
Yang sayangimu dengan hatinya.
Yang kasihimu dengan caranya.
Mengapa kau sia-siakan?
Mengapa kau acuhkan?
Mengapa kau coba bandingkan dengan yang lain?
Mengapa terlalu sibuk kejar kesempurnaan?
Hingga nasi itu termakan waktu lantas berubah rasa.
Lantas siapa dirimu yang berhak atas kesempurnaan itu?
Kau hanya akan merusak sempurnanya dengan hadirmu yang tidak sempurna.

Pahami saja porsimu.
Kenali batasanmu.
Yang Kuasa selalu sediakan hal yang layak untukmu.
Pun Dia akan jauhkan yang tak layak atasmu.

Maka...
Mencintalah saat siap.
Berhentilah saat tercukupkan.

Miss You so Much, Daddy

Oleh: Mispa Risky Simorangkir

Sejenak merindukannya disini
Saat bahagia kulalui tanpanya
Saat sedih kulalui tanpanya
Saat semua harus kujalani sendiri

Malam sendu pilu hingga dingin kadang mengganggu
Canda tawa hilang dan terhempas
berlalu bersama angin
Tak ada lagi cerita seru itu, tidak ada lagi berbagi pengalaman
Meski semua harus berlalu, selalu ada
rasa rindu disini

Semua begitu indah
Pelupuk mata selalu basah mengenangnya
Kilasan bayangan akan sosok dirinya
Akan selalu ada dalam relung hati terdalam

Ayah...
Aku rindu kebersamaan yang sudah jarang kutemui

Untukmu ayah, aku merindukanmu disini
Untuk selalu menguatkanku dalam menjalani hidup

Miss you so much, Daddy.

Minggu, 20 Agustus 2017

Selamat Malam, Malam.

Selamat malam, kau...
Sudahkah lelap kau tertidur?
Sudahkah jauh kau bermimpi?
Tentang apa kali ini?
Tentangkukah?
Tentang diakah yang kini sudah berhak membuatmu bahagia?
Atau tentang harimu yang selalu membosankan itu?
Sepenat apa kau hari ini?
Bagaimana kau tadi menutup hari?

Selamat malam, rindu...
Ini bukan tentangmu.
Bukan karenamu aku mengadu.
Pun akhirnya tuliskan baitku.
Dia hanya terlintas sesaat hingga kutuliskan ini.
Bukan karena hal yang tertahan dan bersisa.
Aku hanya sudah terbiasa memastikannya baik-baik saja.

Selamat malam, malam...
Awasi dia saat terlelap.
Jaga raganya yang ditinggal bermimpi.
Hangatkan dia di balik selimut hangatnya.
Dan bangunkan dia untuk pagi sesok yang masih membosankannya.

Siapa pun kau yang kini sudah berhak ciptakan bahagia untuknya...,
Selamat malam juga untukmu.
Bahagiakan dia.
Karena tugasku sudah usai.
Sudah selesai.

Selamat malam, kalian.



Senin, 29 Mei 2017

Aku Ingin Menciumimu, Seharian

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menunjukkan kasihku lewat kecupku pada kulitmu.
Menunjukkan betapa inginnya aku selalu bersamamu.
Bermanja sehari penuh pada ragamu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menghirup aroma khas yang hanya tubuhmu pemiliknya.
Sebuah aroma yang hanya dirimu sang empunya.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Meniadakan segalanya untuk sesaat dari dalam benak ini.
Mengosongkan kalbu.
Melenyapkan segalanya sekejap.
Dan mengisinya dengan segala tentangmu.
Fokus padamu dan aromamu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Mengenalimu jiwamu dengan lebih dalam lewat hening.
Lewat momen yang tanpa kata namun intim.
Lewat bahasa tubuh yang hanya kita berdua pemahamnya.
Hening dan senyap yang bicara.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menyapukan lembut bibirku pada seluruh permukaan kulitmu dan mendengarmu melantunkan desah dengan nada yang tak beraturan.
Membakar gairahmu dengan nafasku yang pasti hangat ini.
Meresapi setiap detak jantung itu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Membisikkan gelora pada tubuhmu bahwa tubuh itu yang kini aku mau tiada yang lain.
Bahwa sungguh porsiku telah terpuaskan oleh bentuk dan aromanya.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Ya!
Karena aku memang ingin menciumimu seharian.

Senin, 17 April 2017

Gaduhku

Aku menuliskan sajak ini ditengah kegaduhanku.
Menuliskannya disaat kegusaran terhebatku.
Ditengah guruhnya polemik dalam benakku.
Dan dicelah antara pilihan untuk menyerah.
Dan selangkah lagi untuk memilih pasrah.
Saat ini semua bak musuh.
Semua ibarat puas limpahkan ketidak-adilan dipundakku.
Sendiri dan sepi.
Ibarat tak berikan tempat untuk mengeluh mengadu.
Ingin bercerita.
Namun tak kuasa.
Jikapun kuasa takkan ada yang mau mendengarkan.
Dosa hebat apa yang dulu pernah terjadi hingga karmanya kupikul kini.
Hampir murka pada Tuhan.
Nyaris menbenciNYA.
Aku lelah.
Aku letih Tuhan.
Namun aku tak berniat berhenti.
Makhluk manis itu sajalah yang mampu membuatku berdiri.
Masih ada sukur untukMU atas hadirnya.
Terimakasih Tuhan atas adanya.
Atas kesempurnaanMU yang masih kurasa dalam dirinya.
Sepertinya hanya dia sajalah yang ada dipihakku kini.
Makhluk manis itu kekasihku.
Dia perempuanku.
KAU hadir dalam bentuk keindahan sosoknya.
Dan hanya karena dia sajalah aku masih mau untuk bangkit.
Dan kemudian akan kucoba melangkah untuknya.
Dan berniat berlari meski letih.
Meski tertatih.
Terimakasih Tuhan.
Terimakasih sayang.
Aku akan berlari.
Ya..
Aku akan berlari.
Lihat saja.


Jumat, 07 April 2017

Masih Khayal Ini

Mengacak khayal.
Memilah bayang-bayang mereka.
Memaksa temukan sebuah sosok.
Itu sosokmu.
Mencarimu yang sempat terrekam dikebersamaan kemarin.
Mana kiranya yang tampak jelas untuk kujadikan sahabat malam ini?
Mungkin itu sudah kulamunkan kemarin malam.
Atau bahkan kemarin lusa.
Tapi itu tetap akan memuaskanku malam ini.
Sama seperti biasanya.
Hhh..
Janganlah cepat hai kantuk kau menjemput.
Aku jenuh takluk olehmu dan kemudian bermimpi.
Selalu bermimpi.
Aku ingin mengkhayal.
Biarkan aku mengkhayal.

Jumat, 10 Maret 2017

Aku Suka Hujan

Dan akhirnya hujan itu pun datang.
Siap membasahi bumi.
Mengguyurnya sesukanya.
Hingga tak sisakan celah kering di tanah.

Aku suka hujan...
Aku suka aroma yang dibawanya.
Aku suka suara yang diciptakannya.
Aku suka suasana yang dihadirkannya.
Hujan adalah sahabat bagi mereka si penyendiri.
Hujan adalah teman bagi mereka si pengkhayal.
Karena hujan akan selalu hadir membawa gumam.
Membawa lamun.
Membawa khayal dalam benak.

Aku suka hujan...
Karena aku suka berkhayal.
Seperti saat ini...
Dia menyeret segalanya ke dalam benak ini.
Menyeretmu, menyeret dia, menyeret siapa saja yang tiba-tiba hadir dalam otak ini.

Aku suka hujan...
Karena ini momenku untuk mengenal diriku sendiri.
Dan mengenal mereka yang telah pergi.

Aku suka hujan...
Ia membuat riuh orang-orang di jalanan menyepi.
Menepi.
Lalu menciptakan lamun mereka sendiri.

Aku suka hujan...
Karena hanya hujan yang kurasa paling mengenalku.
Bukan engkau, bukan dia, bukan siapa saja.
Hanya hujan.

Aku suka hujan...
Ya...
Aku suka hujan.

Senin, 06 Maret 2017

Kurayu Bidadariku

Kau Makhluk Surga...
Pembawa angin aroma Surga
Indah kembang aromamu
Semerbak harum tubuhmu
Aroma Surga menguap dari semua lipatan kulit tubuhmu

Kau Makhluk Surga...
Biarkan kupetik
Kutanam dan kupelihara di pekaranganku
Pekarangan yang hanya aku pemiliknya
Pekarangan yang kuusahakan seindah Surgamu
Bahkan jauh lebih indah

Kau akan jadi satu-satunya bunga di sana
Dengan wangi yang penuhi semua sudut
Bahkan sudut tanpa cahaya sekalipun
Dengan harummu yang beda
Tak sama
Kau akan jadi ratu di sana

Kau Makhluk Surga...
Tetaplah disini, di Surgaku
Tinggalkan Surgamu dan berdiamlah di Surgaku
Kupastikan, lebih indah Surgaku

Kau Makhluk Surga...
Tugasmu hanya satu
Tumbuhlah dan mewangi
Penuhi semua sudut gelap ruang itu
Meski gelap, aku acuh
Karena untuk menikmati wangimu, aku tak butuh mataku

Maka mewangilah, hanya itu tugasmu
Dan selebihnya, biarkan aku yang upayakan
Karena kau bungaku
Kau Makhluk Surga-ku.

Selasa, 28 Februari 2017

Pesonamu, Ibu

Letih terlihat di wajah yang tua itu
Tertidur pulas dalam alunan gelap malam
Dibalik senyummu teduhkanku
Terbayang potret kala engkau masih muda
Ajarkan sebuah kata cinta dalam hidup
Kekuatan kasihmu nyata pulihkan jiwaku yang kadang goyah

Waktu cepat bergulir, sisakan banyak kisah
Dia yang kau cintai t'lah lama meniggalkan dirimu sendiri
Namun tetap kau berdiri tegak pada dunia

Pesonamu masih jelas kurasa hingga kini
Menemani hingga ku dewasa
Derai air mata dan pengorbananmu takkan tergantikan

Terimakasih, Ibu.

By: Rita Christina Sari Pardede

Kamis, 23 Februari 2017

Malam Dan Sisa Tetes Hujan Ini

Malam kini bergilir.
Mengambil alih untuk hadir.
Senyap itu kini datang.
Sunyi tak terhadang.

Tetesan sisa-sisa hujan di tanah, itu kini yang terdengar kian lantang.
Beradu dengan detik jam yang kian terdengar jelas.
Nafas orang-orang terkasih yang takluk dalam mimpi, kini meninggi.
Saling beradu seperti sedang mengejar sesuatu.
Terkadang nafas itu terdengar seirama.
Terkadang terdengar saling mendahului.

Aku masih hanyut dalam lamunku.
Fokus pada hal tak penting di otakku.
Tentang apa saja.
Apa saja yang hinggap akan kuulas.
Yang aku sudah lupa tentang apa tadi diawalnya.

Kantuk itu masih jauh.
Seperti belum ingin menyatu dengan raga lelahku.

Langit-langit kamar ini hanya sebagai persinggahan.
Hanya sebagai tempat tatapku berlabuh yang tak kuhiraukan.

Apa kabarmu malam ini?
Berbahagialah dengan dia yang kuyakin lebih mampu membahagiakanmu.
Cukup untukku hanya mengulasmu.
Mengulasmu dimalam ini.
Dan dimalam-malam berikutku.

Senin, 13 Februari 2017

Aku Tahu Aku Bukan Siapa-siapa Lagi

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Tapi kenapa saat mendengar kabarmu sedang jatuh dalam sakit, aku panik?
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Itu sebabnya selalu kutahan niatku untuk menanyaimu kenapa boleh sakit?
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Meski sebenarnya ingin sekali menyerbumu dengan pesan teksku menanyakan apa penyebabnya.
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Hingga kuundur menanyakannya esok saja agar tidak terlihat panikku olehmu.
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Tapi kenapa aku masih ingin sekali menjadi orang yang pertama mendengarmu mengatakan "Aku udah baikan Bang".
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Tapi ingin sekali berada disamping ragamu yang lemah itu lalu kusuguhkan canda-canda anehku yang kupaksakan lucu sekedar agar engkau tersenyum.
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Untukmu...
Seperti dulu.

Minggu, 12 Februari 2017

Terkadang

Terkadang, ada kalanya suatu malam aku ingin sekali berbicara denganmu.
Dengan bertindak bodoh meyakinkan diriku sendiri bahwa kau pasti akan meneleponku saat itu juga.
Untuk beberapa saat kuperhatikan ponselku dan melihat bayangan wajahmu di layarnya.
Samar oleh imajinasiku sendiri.
Tentu, tetap dengan hidung pesek itu.
Dan, ya, akhirnya, kau tau?
Aku selalu meleset.
Ponselku bahkan tidak berbunyi.
Bahkan tidak dari siapapun malam itu.

Ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Memang selalu ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Hanya denganmu.
Bukan yang lain.
Berbicara dan membahas segalanya lagi.
Tentu maksudku dengan cara yang ringan dan apa adanya.
Menceritakan hal-hal bodoh yang kita lakukan saat masih bersama dulu.
Lalu sama-sama menertawainya meski pada akhirnya kita sadar bahwa kita masih merindukannya.
Atau mungkin membahas adegan-adegan yang terlewatkan yang seharusnya kita lakukan dengan cara tertentu.
Lalu kita sama-sama kembali menertawainya.

Ada kalanya ingin bercerita denganmu.
Bukan tidak ingin jika aku saja yang meneleponmu.
Hanya saja, kau tau?
Waktumu.
Situasimu.
Timing yang kukhawatirkan tidak tepat.
Dan kau tahu itu kan?
Aku selalu benci dengan "dimana saat aku yakin ingin meneleponmu, kau sedang sibuk "
Sehingga selalu kuputuskan biar aku saja yang menunggu telepon darimu.

Ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Tentang apa saja.
Tentang apapun itu.
Meski selalu sama dan berulang-ulang setiap malamnya.
Namun itu tidak akan pernah membosankan.
Kita akan sangat bahagia melakukannya.
Meski kemudian harus tertunduk bungkam menyadari bahwa kita tidak lagi bersama.
Itu lucu dan sangat lucu.
Aku bahkan terkadang tak habis pikir jika harus memikirkannya.
Tapi, ya sudahlah, bagaimana pun juga aku ingin tetap bisa mengobrol denganmu.
Karena selalu ada kalanya aku ingin sekali mengobrol denganmu.
Ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Jadi,
Telepon aku, oke??

Jumat, 13 Januari 2017

Aku, Pialamu.

Tawa itu perlahan tawar.
Terumbar hambar.
Kini hanya jadi pelengkap.
Bahkan jadi tameng penutup jengah yang terperangkap.

Tangis ini yang kini kerap hadir.
Ada tanpa hambat dan terlalu kerap mengalir.

Kau yang dulu penuh kebaruan sekarang t'lah terasa jauh.
Aku memang memiliki hatimu disini.
Aku memiliki ragamu.
Dan aku yakin itu!
Tapi dimana jiwamu?
Kau tak lebih hanya sekedar seonggok tubuh kaku yang kalah.
Yang hilang indahnya.
Pudar pesonanya.
Entah oleh apa.

Kau tak seharusnya berhenti setelah memenangkan hatiku.
Kau tak seharusnya segera puas setelah mendapat pialamu.
Ya, pialamu!
Aku pialamu.
Kau punya tugas untuk merawat piala ini.
Tak hanya berdiam setelah kau genggam dan miliki.

Karena yakinlah,
Banyak pejuang lain di luar sana yang juga turut berjuang untuk piala ini.
Yang rela melakukan apa saja untuk menggantikan posisimu.

Namun aku sudah terlanjur.
Ya, aku terlanjur menjadi pialamu.
Dan aku nyaman berada diantara jemarimu.
Bukan diantara jejeran piala lain di bupet pialamu.
Tempatkan aku di suatu tempat yang beda dengan mereka.
Karena piala yang satu ini adalah piala yang rapuh.

Aku suka caramu saat dulu berusaha memenangkanku.
Aku suka prosesnya.
Aku suka suasananya.
Aku tak peduli trik busukmu jika ada pada saat itu.
Namun aku yakin kini kau pasti menyadarinya.
Dan aku suka kau memenangkanku.
Dan aku ingin tetap menjadi pialamu.

Rawat aku...
Kilaukan aku selalu.
Bedakan aku.
Karena jemarimu adalah tempatku.
Dan kaulah juaraku.

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3