https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI: Lonely Phoem

Cari:

Tampilkan postingan dengan label Lonely Phoem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lonely Phoem. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Februari 2018

Rembulan Menyaksikanku Bernyanyi

Rembulan menyaksikanku bernyanyi.
Melihatku melantunkan gita-gita rindu.
Menatapku yang sedari tadi sendiri merangkai lagu.
Lagu untuknya.
Untuk perempuanku.
Makhluk manjaku yang saat ini pasti tengah terlelap syahdu di balik selimut hangatnya.

Cahaya redupmu enggan menampakkan diri.
Bersembunyi di balik awan yang temaram kelam.
Kumpulan awan gelap itu kau jadikan tameng.
Mungkin supaya laguku tak terkecoh karena hadirnya.

Tak apa.
Kemari, lihatlah.
Jangan bersembunyi.
Aku bernyanyi memang agar kau lihat.
Agar kau tahu bahwa aku sedang memiliki rindu yang hebat.
Agar sampaikan padanya tentang ini.
Tentang rindu yang mendekap.
Pada gadisku.

Hujan pun baru saja berhenti.
Hanya tetes-tetes terakhirnya saja yang tersisa di dahan.
Pun di atas atap.
Bumi bagai bosan oleh basahnya sehari.
Tak sejengkal pun tanah kering dibiarkannya.
Mengubah debu menjadi lumpur.

Angin ini.
Terkadang kencang terkadang sayu.
Membawa suara riuh dari kehidupan di seberang sana.
Terkedang jelas terkadang menghilang.
Sesukanya menghadirkan suara itu di telingaku.

Pun suara hewan-hewan malam.
Kini mulai meramai.
Mulai saling bersahutan diantara belukar itu.
Diantara dedaunan basah.
Dan dahan yang tertahan di aliran air yang surut.
Bagai berbicara dengan bahasa yang hanya mereka yang pahami.
Mungkin senang atas hujan yang sudah mereda.
Atau mungkin hanya ingin meriuhkan sepi malam saja?

Kembali padamu, wahai rembulan.
Aku menuliskan ini di jeda letihku bernyanyi.
Di celah lelahku lantunkan banyak dendang.
Kau tak lagi bersembunyi.
Kini jelas menatapku berani.
Aku melihatmu.
Kau melihatku.
Kau melihat dia yang ingin kulihat.
Sampaikan padanya,
"Aku rindu."

Jumat, 07 April 2017

Masih Khayal Ini

Mengacak khayal.
Memilah bayang-bayang mereka.
Memaksa temukan sebuah sosok.
Itu sosokmu.
Mencarimu yang sempat terrekam dikebersamaan kemarin.
Mana kiranya yang tampak jelas untuk kujadikan sahabat malam ini?
Mungkin itu sudah kulamunkan kemarin malam.
Atau bahkan kemarin lusa.
Tapi itu tetap akan memuaskanku malam ini.
Sama seperti biasanya.
Hhh..
Janganlah cepat hai kantuk kau menjemput.
Aku jenuh takluk olehmu dan kemudian bermimpi.
Selalu bermimpi.
Aku ingin mengkhayal.
Biarkan aku mengkhayal.

Jumat, 10 Maret 2017

Aku Suka Hujan

Dan akhirnya hujan itu pun datang.
Siap membasahi bumi.
Mengguyurnya sesukanya.
Hingga tak sisakan celah kering di tanah.

Aku suka hujan...
Aku suka aroma yang dibawanya.
Aku suka suara yang diciptakannya.
Aku suka suasana yang dihadirkannya.
Hujan adalah sahabat bagi mereka si penyendiri.
Hujan adalah teman bagi mereka si pengkhayal.
Karena hujan akan selalu hadir membawa gumam.
Membawa lamun.
Membawa khayal dalam benak.

Aku suka hujan...
Karena aku suka berkhayal.
Seperti saat ini...
Dia menyeret segalanya ke dalam benak ini.
Menyeretmu, menyeret dia, menyeret siapa saja yang tiba-tiba hadir dalam otak ini.

Aku suka hujan...
Karena ini momenku untuk mengenal diriku sendiri.
Dan mengenal mereka yang telah pergi.

Aku suka hujan...
Ia membuat riuh orang-orang di jalanan menyepi.
Menepi.
Lalu menciptakan lamun mereka sendiri.

Aku suka hujan...
Karena hanya hujan yang kurasa paling mengenalku.
Bukan engkau, bukan dia, bukan siapa saja.
Hanya hujan.

Aku suka hujan...
Ya...
Aku suka hujan.

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3