Rembulan menyaksikanku bernyanyi.
Melihatku melantunkan gita-gita rindu.
Menatapku yang sedari tadi sendiri merangkai lagu.
Lagu untuknya.
Untuk perempuanku.
Makhluk manjaku yang saat ini pasti tengah terlelap syahdu di balik selimut hangatnya.
Cahaya redupmu enggan menampakkan diri.
Bersembunyi di balik awan yang temaram kelam.
Kumpulan awan gelap itu kau jadikan tameng.
Mungkin supaya laguku tak terkecoh karena hadirnya.
Tak apa.
Kemari, lihatlah.
Jangan bersembunyi.
Aku bernyanyi memang agar kau lihat.
Agar kau tahu bahwa aku sedang memiliki rindu yang hebat.
Agar sampaikan padanya tentang ini.
Tentang rindu yang mendekap.
Pada gadisku.
Hujan pun baru saja berhenti.
Hanya tetes-tetes terakhirnya saja yang tersisa di dahan.
Pun di atas atap.
Bumi bagai bosan oleh basahnya sehari.
Tak sejengkal pun tanah kering dibiarkannya.
Mengubah debu menjadi lumpur.
Angin ini.
Terkadang kencang terkadang sayu.
Membawa suara riuh dari kehidupan di seberang sana.
Terkedang jelas terkadang menghilang.
Sesukanya menghadirkan suara itu di telingaku.
Pun suara hewan-hewan malam.
Kini mulai meramai.
Mulai saling bersahutan diantara belukar itu.
Diantara dedaunan basah.
Dan dahan yang tertahan di aliran air yang surut.
Bagai berbicara dengan bahasa yang hanya mereka yang pahami.
Mungkin senang atas hujan yang sudah mereda.
Atau mungkin hanya ingin meriuhkan sepi malam saja?
Kembali padamu, wahai rembulan.
Aku menuliskan ini di jeda letihku bernyanyi.
Di celah lelahku lantunkan banyak dendang.
Kau tak lagi bersembunyi.
Kini jelas menatapku berani.
Aku melihatmu.
Kau melihatku.
Kau melihat dia yang ingin kulihat.
Sampaikan padanya,
"Aku rindu."