https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI: Maaf, Aku Tak Sengaja

Cari:

Sabtu, 28 Oktober 2017

Maaf, Aku Tak Sengaja

Aku tidak sengaja menyukaimu.
Ini bukan sesuatu yang kurencana di dalam kamarku semalaman.
Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu.
Dan ketika kamu balik melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing terjauh yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga agar kamu tidak tahu aku sedang memandangimu.
Aku takut kamu marah walau sebenarnya kamu selalu tersenyum jika mendapatiku baru saja memandangimu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu.
Itu lebih berharga dibanding berada satu momen dengan Obama sekalipun.
Aku tidak sengaja memiliki sesuatu yang ingin sekali kuceritakan denganmu namun tidak tahu harus memulainya darimana.
Aku tidak sengaja selalu mengundur mengatakannya setiap momen tepat itu datang.
Aku tetap selalu tidak siap meski sudah merencanakannya semalaman dengan sangat sangat matang.
Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama.
Contohnya di Perpustakaan. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus.
Jadi kumohon, buku novel itu dan charger handphone yang kupinjamkan itu jangan kembalikan bebarengan.
Aku rela musti harus berantam dulu dengan teman sekamarku tiap meminjam casan hapenya dan selalu berbohong soal novel miliknya itu.
Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya.
Ketahuilah, disini masih banyak novel bagus milik teman sekamarku.
Semuanya tidak sengaja beralasan begitu saja agar kita tetap bisa bertemu.
Aku tidak sengaja mengaktifkan zat phenylethylamine di dalam sistem otakku saat dekat kamu.
Dan itu memicu euphoria.
Perasaan menyenangkan yang riuh.
Terpicu begitu saja.
Aku bisa merasakan darah mengalir deras di tubuhku, bolak balik seperti angkot yang tidak mau ngetem.
Bahkan ingin sekali aku meminjam rompi anti peluru-nya si Silvester Stallone di pilem Expandebles agar deguban jantungku tidak terlihat dari luar kemejaku.
Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku.
Hal ini memaksa otakku agar kreatif membuat lebih banyak lelucon lagi untuk kamu.
Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja yang kamu daratkan di perutku.
Ini, aku masih punya dada, pundak, lengan bahkan pipi untuk tempat kamu mencubit sesukamu.
Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu.
Aku benci ketika bersama kamu kita terjebak dalam momen hening.
Aku tidak sengaja merasakan dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, selalu singkat, seolah kebersamaan kita begitu menakutkan bagi waktu.
Aku bahkan tidak sengaja tersakiti saat mendengarmu menceritakan soal dia.
Iya, soal laki-laki itu.
Sakit itu teramat aneh, aku tidak tau cara mengendalikannya.
Aku bahkan tidak sengaja menjadi sangat membenci laki-laki itu maski kusadari dia tidak memiliki salah apa-apa padaku.
Ini aneh dan ada begitu saja.
Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan.
Ah, aku tidak sengaja terus membaui wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku itu.
Terus menerus, hingga pagi menjelang.
Bahkan jika harus, aku tidak akan mencucinya.
Handphone-ku adalah benda yang pertama ku-check begitu aku terbangun.
Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya.
SMS-mu yang berbunyi "Met pagi, udah bangun belum?" itu jauh lebih penting dari semua SMS yang masuk ke inboks pesanku.
Meski selalu sama ditiap paginya.
Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.
Hariku akan buruk jika dalam sehari itu aku tidak memandangi hidung pesekmu barang semenit pun.
Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari.
Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.
Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik.
Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit dan kompleks, ataukah alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?
Aku tidak sengaja menjadikanmu "sebab" dalam setiap "mengapa" yang bermuara di benakku.
Sekali lagi maafkan aku, aku tidak sengaja.
Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.
Aku tidak sengaja mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3