https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI: Berhati-hatilah, Hati!

Cari:

Minggu, 27 Agustus 2017

Berhati-hatilah, Hati!

Ketika kau memancing ikan...
Kemudian ikan melekat di mata kailmu.
Ambillah.
Jangan lepaskan lagi begitu saja ke air.
Karena ia telah sakit oleh tajam mata kailmu.
Dan ia akan bawa luka itu selama hidupnya.

Pun kau...
Ketika berani katakan cinta.
Setelah beri harap banyak padanya.
Setelah ia mulai berikan hatinya.
Kau harus jaga itu.
Jangan tinggalkan begitu saja.
Karena akan luka ia oleh kenangan itu.
Dan mungkin saja membawanya sepanjang hidupnya.

Jika kau punya lukisan cantik...
Anggap ia perhiasan belaka.
Sekedar saja.
Jangan puja indahnya dengan terlalu.
Karena jika menganggapnya tercantik tanpa cela.
Maka patahlah hatimu saat temukan satu bahagian rusaknya.
Pembuangan akan menjadi tempat akhirnya.
Namun jika saja kau coba perbaikinya.
Mungkin ia akan tetap indah.
Berkuranglah sedikit sakit di hatimu.

Pun kau...
Ketika mengenal seseorang.
Anggaplah ia biasa.
Cintamulah yang jangan biasa.
Indahkan dengan cara berbeda.
Taruh cintamu pada ia dengan apa adanya.
Jangan kagumi dengan terlalu.
Karena jika begitu.
Maka saat sekali saja ia lakukan salah.
Kau takkan terima.
Kau pun murka lantas mengakhirinya.
Padahal jika saja kau maafkan.
Takkan putus bagimu kebahagiaan.
Indah yang mungkin berlebih dari sebelumnya.

Jika tersedia bagimu sepiring nasi.
Yang baik bagimu.
Yang memang kau butuh.
Mengenyangkanmu.
Jangan kutuk kesederhanaannya.
Lantas mencari nasi lain.
Kelezatan lain yang melebihinya.
Sibuk mengupayakan yang lebih nikmat.
Suatu saat...
Dikala kau sibuk dalam pencarianmu.
Mengacuhkan nasimu.
Ia akan termakan waktu dan basi.
Dan tak mungkin bagimu memakannya lagi.
Sesal 'kan kau dapati.

Pun kau...
Setelah bertemu seseorang.
Yang bawa banyak kebaikan padamu.
Yang menaruh segala cintanya atasmu.
Yang sayangimu dengan hatinya.
Yang kasihimu dengan caranya.
Mengapa kau sia-siakan?
Mengapa kau acuhkan?
Mengapa kau coba bandingkan dengan yang lain?
Mengapa terlalu sibuk kejar kesempurnaan?
Hingga nasi itu termakan waktu lantas berubah rasa.
Lantas siapa dirimu yang berhak atas kesempurnaan itu?
Kau hanya akan merusak sempurnanya dengan hadirmu yang tidak sempurna.

Pahami saja porsimu.
Kenali batasanmu.
Yang Kuasa selalu sediakan hal yang layak untukmu.
Pun Dia akan jauhkan yang tak layak atasmu.

Maka...
Mencintalah saat siap.
Berhentilah saat tercukupkan.

Tidak ada komentar:

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3