Hai, kau yang jauh disana!
Yang padamu kuletakkan rasa percaya dan cintaku.
Sedang apa?
Apa sedang memikirkanku juga seperti yang kulakukan saat ini?
Aku merindukanmu.
Sangat merindukanmu.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana!
Yang terpisah oleh jarak denganku.
Aku tahu kita jauh.
Tapi kau adalah yang terdekat dari apa yang paling dekat denganku.
Jarak ini hanya sementara.
Percaya saja.
Karena aku yakin itu.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana!
Bagaimana harimu hari ini?
Apakah membosankan?
Mengecewakan?
Jenuh tanpaku?
Hahaaa...
Disini aku juga bosan tanpamu.
Hariku tak pernah luar biasa lagi tanpamu.
Karena kaulah luar biasa-ku.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana!
Bertahanlah.
Karena aku juga bertahan untukmu.
Karena semua mimpi kita terlalu sayang jika kurusak hanya karena rasa bosanku.
Takkan kurusak itu.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana!
Mimpi itu masih kupegang, kok.
Bahkan sangat erat.
Lebih erat dari balon hijau.
Heheee...
Meski banyak uji mendekatiku.
Banyak sosok yang datang tawarkan kelebihannya.
Bahkan tak bisa kubohongi kalau mereka memang melebihimu.
Tapi tenanglah!
Aku sudah sangat tercukupkan olehmu.
Aku akan berhenti padamu.
Kau mencukupkanku.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana!
Meski tak dapat kusentuh,
Tapi wajah dan suaramu sudah lebih dari cukup untukku menutup hari ini.
Mencandakan hal yang sama berulang-ulang di telepon denganmu, masih menyenangkanku.
Kau adalah hal terakhir yang kupikirkan sebelum aku tertidur.
Senyumku masih tentang kita sesaat sebelum aku menutup mata.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana!
Selamat pagi!
Kau sosok pertama yang kupikirkan begitu aku terbangun tadi.
Iya, kau!
Terima kasih untuk tawa hangat semalam.
Terima kasih untuk caramu yang fokus membuatku tertawa.
Aku suka dan aku tahu,
Kau sungguh mengupayakan segalanya untukku.
Dalam pikiranmu penuh tentang rencana-rencanamu membahagiakanku.
Aku percaya itu.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana.
Berceritalah jika kau sampai rasakan hal lain atasku.
Karena aku tak bisa menatap bahasa tubuhmu jika aku membuatmu tak nyaman.
Ceritakan denganku.
Bahas segalanya padaku.
Bahkan jika itu tentang keburukanku.
Karena hanya padamu aku berani tampil jelek dan manja.
Hanya padamu aku berani menunjukkan siapa sebenarnya aku.
Si roa balang ini.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana!
Kau tahu?
Aku paling rindu baumu saat ini.
Iya, bau tubuhmu!
Bau yang kurasa hanya kau pemiliknya.
Bau yang membiasakanku.
Yang aku terbiasa menjalani hariku dengannya.
Masih tersisa di boneka ini.
Di boneka pemberianmu yang makin mengempis.
Walau baumu padanya makin pudar, tapi aku masih bisa mengingatnya.
Karena baumu adalah satu-satunya bau yang bisa kuingat.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana.
Berdoalah untukku, untuk kita.
Karena aku juga berdoa untukmu, untuk kita.
Karena hanya dengan Doa, aku paham caraku mencintaimu dari jauh.
Namamu jauh lebih banyak kusebutkan dalam doaku melebihi namaku sendiri.
Sungguh!
Hai, kau yang jauh disana!
Terima kasih.
Terima kasih untuk segalanya.
Terima kasih karena telah menemukanku.
Terima kasih karena telah memilihku.
Aku...
Mencintaimu.
Sungguh!
Fri, Sept 08, 17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar