https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Selasa, 28 Februari 2017

Pesonamu, Ibu

Letih terlihat di wajah yang tua itu
Tertidur pulas dalam alunan gelap malam
Dibalik senyummu teduhkanku
Terbayang potret kala engkau masih muda
Ajarkan sebuah kata cinta dalam hidup
Kekuatan kasihmu nyata pulihkan jiwaku yang kadang goyah

Waktu cepat bergulir, sisakan banyak kisah
Dia yang kau cintai t'lah lama meniggalkan dirimu sendiri
Namun tetap kau berdiri tegak pada dunia

Pesonamu masih jelas kurasa hingga kini
Menemani hingga ku dewasa
Derai air mata dan pengorbananmu takkan tergantikan

Terimakasih, Ibu.

By: Rita Christina Sari Pardede

Kamis, 23 Februari 2017

Malam Dan Sisa Tetes Hujan Ini

Malam kini bergilir.
Mengambil alih untuk hadir.
Senyap itu kini datang.
Sunyi tak terhadang.

Tetesan sisa-sisa hujan di tanah, itu kini yang terdengar kian lantang.
Beradu dengan detik jam yang kian terdengar jelas.
Nafas orang-orang terkasih yang takluk dalam mimpi, kini meninggi.
Saling beradu seperti sedang mengejar sesuatu.
Terkadang nafas itu terdengar seirama.
Terkadang terdengar saling mendahului.

Aku masih hanyut dalam lamunku.
Fokus pada hal tak penting di otakku.
Tentang apa saja.
Apa saja yang hinggap akan kuulas.
Yang aku sudah lupa tentang apa tadi diawalnya.

Kantuk itu masih jauh.
Seperti belum ingin menyatu dengan raga lelahku.

Langit-langit kamar ini hanya sebagai persinggahan.
Hanya sebagai tempat tatapku berlabuh yang tak kuhiraukan.

Apa kabarmu malam ini?
Berbahagialah dengan dia yang kuyakin lebih mampu membahagiakanmu.
Cukup untukku hanya mengulasmu.
Mengulasmu dimalam ini.
Dan dimalam-malam berikutku.

Senin, 13 Februari 2017

Aku Tahu Aku Bukan Siapa-siapa Lagi

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Tapi kenapa saat mendengar kabarmu sedang jatuh dalam sakit, aku panik?
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Itu sebabnya selalu kutahan niatku untuk menanyaimu kenapa boleh sakit?
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Meski sebenarnya ingin sekali menyerbumu dengan pesan teksku menanyakan apa penyebabnya.
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Hingga kuundur menanyakannya esok saja agar tidak terlihat panikku olehmu.
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Tapi kenapa aku masih ingin sekali menjadi orang yang pertama mendengarmu mengatakan "Aku udah baikan Bang".
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Tapi ingin sekali berada disamping ragamu yang lemah itu lalu kusuguhkan canda-canda anehku yang kupaksakan lucu sekedar agar engkau tersenyum.
Seperti dulu.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Aku tahu aku bukan siapa-siapa lagi...
Untukmu...
Seperti dulu.

Minggu, 12 Februari 2017

Terkadang

Terkadang, ada kalanya suatu malam aku ingin sekali berbicara denganmu.
Dengan bertindak bodoh meyakinkan diriku sendiri bahwa kau pasti akan meneleponku saat itu juga.
Untuk beberapa saat kuperhatikan ponselku dan melihat bayangan wajahmu di layarnya.
Samar oleh imajinasiku sendiri.
Tentu, tetap dengan hidung pesek itu.
Dan, ya, akhirnya, kau tau?
Aku selalu meleset.
Ponselku bahkan tidak berbunyi.
Bahkan tidak dari siapapun malam itu.

Ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Memang selalu ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Hanya denganmu.
Bukan yang lain.
Berbicara dan membahas segalanya lagi.
Tentu maksudku dengan cara yang ringan dan apa adanya.
Menceritakan hal-hal bodoh yang kita lakukan saat masih bersama dulu.
Lalu sama-sama menertawainya meski pada akhirnya kita sadar bahwa kita masih merindukannya.
Atau mungkin membahas adegan-adegan yang terlewatkan yang seharusnya kita lakukan dengan cara tertentu.
Lalu kita sama-sama kembali menertawainya.

Ada kalanya ingin bercerita denganmu.
Bukan tidak ingin jika aku saja yang meneleponmu.
Hanya saja, kau tau?
Waktumu.
Situasimu.
Timing yang kukhawatirkan tidak tepat.
Dan kau tahu itu kan?
Aku selalu benci dengan "dimana saat aku yakin ingin meneleponmu, kau sedang sibuk "
Sehingga selalu kuputuskan biar aku saja yang menunggu telepon darimu.

Ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Tentang apa saja.
Tentang apapun itu.
Meski selalu sama dan berulang-ulang setiap malamnya.
Namun itu tidak akan pernah membosankan.
Kita akan sangat bahagia melakukannya.
Meski kemudian harus tertunduk bungkam menyadari bahwa kita tidak lagi bersama.
Itu lucu dan sangat lucu.
Aku bahkan terkadang tak habis pikir jika harus memikirkannya.
Tapi, ya sudahlah, bagaimana pun juga aku ingin tetap bisa mengobrol denganmu.
Karena selalu ada kalanya aku ingin sekali mengobrol denganmu.
Ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Jadi,
Telepon aku, oke??

Jumat, 13 Januari 2017

Aku, Pialamu.

Tawa itu perlahan tawar.
Terumbar hambar.
Kini hanya jadi pelengkap.
Bahkan jadi tameng penutup jengah yang terperangkap.

Tangis ini yang kini kerap hadir.
Ada tanpa hambat dan terlalu kerap mengalir.

Kau yang dulu penuh kebaruan sekarang t'lah terasa jauh.
Aku memang memiliki hatimu disini.
Aku memiliki ragamu.
Dan aku yakin itu!
Tapi dimana jiwamu?
Kau tak lebih hanya sekedar seonggok tubuh kaku yang kalah.
Yang hilang indahnya.
Pudar pesonanya.
Entah oleh apa.

Kau tak seharusnya berhenti setelah memenangkan hatiku.
Kau tak seharusnya segera puas setelah mendapat pialamu.
Ya, pialamu!
Aku pialamu.
Kau punya tugas untuk merawat piala ini.
Tak hanya berdiam setelah kau genggam dan miliki.

Karena yakinlah,
Banyak pejuang lain di luar sana yang juga turut berjuang untuk piala ini.
Yang rela melakukan apa saja untuk menggantikan posisimu.

Namun aku sudah terlanjur.
Ya, aku terlanjur menjadi pialamu.
Dan aku nyaman berada diantara jemarimu.
Bukan diantara jejeran piala lain di bupet pialamu.
Tempatkan aku di suatu tempat yang beda dengan mereka.
Karena piala yang satu ini adalah piala yang rapuh.

Aku suka caramu saat dulu berusaha memenangkanku.
Aku suka prosesnya.
Aku suka suasananya.
Aku tak peduli trik busukmu jika ada pada saat itu.
Namun aku yakin kini kau pasti menyadarinya.
Dan aku suka kau memenangkanku.
Dan aku ingin tetap menjadi pialamu.

Rawat aku...
Kilaukan aku selalu.
Bedakan aku.
Karena jemarimu adalah tempatku.
Dan kaulah juaraku.

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3