https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Minggu, 20 Agustus 2017

Selamat Malam, Malam.

Selamat malam, kau...
Sudahkah lelap kau tertidur?
Sudahkah jauh kau bermimpi?
Tentang apa kali ini?
Tentangkukah?
Tentang diakah yang kini sudah berhak membuatmu bahagia?
Atau tentang harimu yang selalu membosankan itu?
Sepenat apa kau hari ini?
Bagaimana kau tadi menutup hari?

Selamat malam, rindu...
Ini bukan tentangmu.
Bukan karenamu aku mengadu.
Pun akhirnya tuliskan baitku.
Dia hanya terlintas sesaat hingga kutuliskan ini.
Bukan karena hal yang tertahan dan bersisa.
Aku hanya sudah terbiasa memastikannya baik-baik saja.

Selamat malam, malam...
Awasi dia saat terlelap.
Jaga raganya yang ditinggal bermimpi.
Hangatkan dia di balik selimut hangatnya.
Dan bangunkan dia untuk pagi sesok yang masih membosankannya.

Siapa pun kau yang kini sudah berhak ciptakan bahagia untuknya...,
Selamat malam juga untukmu.
Bahagiakan dia.
Karena tugasku sudah usai.
Sudah selesai.

Selamat malam, kalian.



Senin, 29 Mei 2017

Aku Ingin Menciumimu, Seharian

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menunjukkan kasihku lewat kecupku pada kulitmu.
Menunjukkan betapa inginnya aku selalu bersamamu.
Bermanja sehari penuh pada ragamu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menghirup aroma khas yang hanya tubuhmu pemiliknya.
Sebuah aroma yang hanya dirimu sang empunya.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Meniadakan segalanya untuk sesaat dari dalam benak ini.
Mengosongkan kalbu.
Melenyapkan segalanya sekejap.
Dan mengisinya dengan segala tentangmu.
Fokus padamu dan aromamu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Mengenalimu jiwamu dengan lebih dalam lewat hening.
Lewat momen yang tanpa kata namun intim.
Lewat bahasa tubuh yang hanya kita berdua pemahamnya.
Hening dan senyap yang bicara.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menyapukan lembut bibirku pada seluruh permukaan kulitmu dan mendengarmu melantunkan desah dengan nada yang tak beraturan.
Membakar gairahmu dengan nafasku yang pasti hangat ini.
Meresapi setiap detak jantung itu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Membisikkan gelora pada tubuhmu bahwa tubuh itu yang kini aku mau tiada yang lain.
Bahwa sungguh porsiku telah terpuaskan oleh bentuk dan aromanya.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Ya!
Karena aku memang ingin menciumimu seharian.

Senin, 17 April 2017

Gaduhku

Aku menuliskan sajak ini ditengah kegaduhanku.
Menuliskannya disaat kegusaran terhebatku.
Ditengah guruhnya polemik dalam benakku.
Dan dicelah antara pilihan untuk menyerah.
Dan selangkah lagi untuk memilih pasrah.
Saat ini semua bak musuh.
Semua ibarat puas limpahkan ketidak-adilan dipundakku.
Sendiri dan sepi.
Ibarat tak berikan tempat untuk mengeluh mengadu.
Ingin bercerita.
Namun tak kuasa.
Jikapun kuasa takkan ada yang mau mendengarkan.
Dosa hebat apa yang dulu pernah terjadi hingga karmanya kupikul kini.
Hampir murka pada Tuhan.
Nyaris menbenciNYA.
Aku lelah.
Aku letih Tuhan.
Namun aku tak berniat berhenti.
Makhluk manis itu sajalah yang mampu membuatku berdiri.
Masih ada sukur untukMU atas hadirnya.
Terimakasih Tuhan atas adanya.
Atas kesempurnaanMU yang masih kurasa dalam dirinya.
Sepertinya hanya dia sajalah yang ada dipihakku kini.
Makhluk manis itu kekasihku.
Dia perempuanku.
KAU hadir dalam bentuk keindahan sosoknya.
Dan hanya karena dia sajalah aku masih mau untuk bangkit.
Dan kemudian akan kucoba melangkah untuknya.
Dan berniat berlari meski letih.
Meski tertatih.
Terimakasih Tuhan.
Terimakasih sayang.
Aku akan berlari.
Ya..
Aku akan berlari.
Lihat saja.


Jumat, 07 April 2017

Masih Khayal Ini

Mengacak khayal.
Memilah bayang-bayang mereka.
Memaksa temukan sebuah sosok.
Itu sosokmu.
Mencarimu yang sempat terrekam dikebersamaan kemarin.
Mana kiranya yang tampak jelas untuk kujadikan sahabat malam ini?
Mungkin itu sudah kulamunkan kemarin malam.
Atau bahkan kemarin lusa.
Tapi itu tetap akan memuaskanku malam ini.
Sama seperti biasanya.
Hhh..
Janganlah cepat hai kantuk kau menjemput.
Aku jenuh takluk olehmu dan kemudian bermimpi.
Selalu bermimpi.
Aku ingin mengkhayal.
Biarkan aku mengkhayal.

Jumat, 10 Maret 2017

Aku Suka Hujan

Dan akhirnya hujan itu pun datang.
Siap membasahi bumi.
Mengguyurnya sesukanya.
Hingga tak sisakan celah kering di tanah.

Aku suka hujan...
Aku suka aroma yang dibawanya.
Aku suka suara yang diciptakannya.
Aku suka suasana yang dihadirkannya.
Hujan adalah sahabat bagi mereka si penyendiri.
Hujan adalah teman bagi mereka si pengkhayal.
Karena hujan akan selalu hadir membawa gumam.
Membawa lamun.
Membawa khayal dalam benak.

Aku suka hujan...
Karena aku suka berkhayal.
Seperti saat ini...
Dia menyeret segalanya ke dalam benak ini.
Menyeretmu, menyeret dia, menyeret siapa saja yang tiba-tiba hadir dalam otak ini.

Aku suka hujan...
Karena ini momenku untuk mengenal diriku sendiri.
Dan mengenal mereka yang telah pergi.

Aku suka hujan...
Ia membuat riuh orang-orang di jalanan menyepi.
Menepi.
Lalu menciptakan lamun mereka sendiri.

Aku suka hujan...
Karena hanya hujan yang kurasa paling mengenalku.
Bukan engkau, bukan dia, bukan siapa saja.
Hanya hujan.

Aku suka hujan...
Ya...
Aku suka hujan.

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3