https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Selasa, 30 Januari 2018

Percaya Saja

Ini adalah sesuatu hal yang penting dariku yang sangat perlu untuk kau ketahui, wahai perempuanku.

Aku sangat yakin sedang menyayangimu.
Sangat sadar tengah meletakkan seluruh hatiku padamu untuk kau rawat dan kau pelihara sesukamu.
Mencintaimu dengan kesadaran yang penuh dan tulus sedang kualami kini.
Jadi, jika suatu saat ada seorang sejenismu perempuan yang terlihat akrab denganku, jangan menyimpan prasangka buruk atasku, terlebih memendamnya.

Dia atau siapapun itu bukanlah tandinganmu.
Mereka tak berhak atas tempatmu disini, di hatiku.
Mereka hanya penambah pelengkap kagummu atasku karena aku sebagai lelakimu dibutuhkan untuk membagikan sedikit pengetahuanku tentang kehidupan.
Mereka hanya ingin bercerita dan meminta beberapa saran dariku.
Mereka mungkin akan menangis, tapi dada ini adalah milikmu dan mereka atau siapapun tak berhak menyandarkan kepalanya disitu.
Batasan itu akan tetap kujaga.
Percayalah.

Mereka bahkan mungkin akan meluapkan segala emosinya dengan berbagai cara.
Kuminta padamu agar percaya bahwa aku bisa menanganinya dengan kesadaran penuh bahwa aku sedang dimiliki olehmu.
Aku pasti dibutuhkan oleh siapa saja untuk mereka bercerita tentang hidupnya, bahkan pribadinya.
Jangan membatasiku saat aku mendalami potensiku bahwa pengetahuanku berguna bagi mereka.
Tetapi justru tumbuhkanlah kagummu atasku yang mampu membagikan sebagian kecil pengetahuanku.

Kaulah pemilik hati ini.
Kaulah pemilik segenap tentangku.
Cerita dan upaya yang kuberikan pada mereka masih sangat terlalu sedikit dibanding yang telah dan yang akan kuberikan untukmu.

Padamu bahkan telah kurencanakan masa depanku.
Jadi pantaskah wajah dan dagu cantikmu itu kau rubah ke ekspresi cemberut, cemburu bahkan marah?
Atau, pantaskah aku harus berbagi tempat di hatimu bersama sebulir bibit kecewa di sana?

Tapi di atas semua itu, kau masih berhak melarangku.
Kau berhak menghentikanku melakukan semua itu.
Karena memang kaulah fokusku.
Padamulah selayaknya hati ini tertuju.
Utuh.
Karena aku menyayangimu, perempuanku.
Ya..
Aku sadar sedang menyayangimu.

Senin, 15 Januari 2018

Itu Dagumu...

Kau tahu, kenapa aku suka menatap lama pada wajahmu?
Itu karena dagumu.
Organ cantik yang tercantik yang tercipta di antara organ-organ lain di wajahmu.
Bentuknya indah.
Terlebih saat kau tersenyum.
Runcing dan terbentuk rapi mengikuti lekuk garis senyummu.
Dagumu tercipta sepaket dengan wajahmu.
Dagumu mempercantik organ lainnya.
Dagumu membiaskan cacat yang kasat di sekitarnya.

Jika aku suka menatap lama di wajahmu, itu karena dia.
Karena dagumu.
Dagumu adalah penyebabnya.
Salahkan dia, jangan mataku.
Dialah sumbernya.
Dagumu yang mengundang mataku untuk fokus ke arah wajahmu.
Pesonanya yang menarikku.
Hingga akhirnya matamu mengirimkan sebuah hormon pada otakmu yang menciptakan ephoria tak terkendali.
Kau grogi.
Tak paham antara ingin tersenyum atau bersembunyi.
Dan jika situasi itu berlangsung terlalu lama, dan kau semakin tak paham harus bertingkah apa, otakmu akan memberi perintah pada tanganmu untuk menghardik wajahku.
Lalu momen itu pun usai.
Buyar dan selesai.
Dan aku harus mampu merakit momen itu lagi dari awal.

Dagumu...
Mungkin adalah organ yang dulunya tercipta pertama kali dari antara organ-organ lainnya.
Mungkin dialah yang pertama kali terbentuk saat kau masih embrio.
Melupakan fakta bahwa mulutlah yang pertama kali terbentuk dalam rahim.
Sehingga semua keindahan yang direncanakan untuk seluruh tubuhmu terserap habis olehnya.
Tapi, entahlah.
Itu hanya anggapan liarku semata.
Itu karena dia terlalu indah.
Terlalu cantik untuk dikatakan menjadi sebuah dagu.

Maka, kumohon biarkan tetap begitu.
Biarkan dia tetap indah di tempatnya.
Setidaknya untukku.
Hanya untukku.
Dan biarkan aku tetap mengaguminya.
Menciptakan rasa ketertarikan eksklusif untuknya.
Jangan melarangku menatap lama padanya.
Jadi percuma kau menutup matamu saat aku fokus di wajahmu.
Karena aku masih melihat dagumu.
Karena dagumulah fokusku.
Dagumulah kagumku.
Kini.
Dan nanti.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Maaf, Aku Tak Sengaja

Aku tidak sengaja menyukaimu.
Ini bukan sesuatu yang kurencana di dalam kamarku semalaman.
Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu.
Dan ketika kamu balik melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing terjauh yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga agar kamu tidak tahu aku sedang memandangimu.
Aku takut kamu marah walau sebenarnya kamu selalu tersenyum jika mendapatiku baru saja memandangimu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu.
Itu lebih berharga dibanding berada satu momen dengan Obama sekalipun.
Aku tidak sengaja memiliki sesuatu yang ingin sekali kuceritakan denganmu namun tidak tahu harus memulainya darimana.
Aku tidak sengaja selalu mengundur mengatakannya setiap momen tepat itu datang.
Aku tetap selalu tidak siap meski sudah merencanakannya semalaman dengan sangat sangat matang.
Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama.
Contohnya di Perpustakaan. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus.
Jadi kumohon, buku novel itu dan charger handphone yang kupinjamkan itu jangan kembalikan bebarengan.
Aku rela musti harus berantam dulu dengan teman sekamarku tiap meminjam casan hapenya dan selalu berbohong soal novel miliknya itu.
Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya.
Ketahuilah, disini masih banyak novel bagus milik teman sekamarku.
Semuanya tidak sengaja beralasan begitu saja agar kita tetap bisa bertemu.
Aku tidak sengaja mengaktifkan zat phenylethylamine di dalam sistem otakku saat dekat kamu.
Dan itu memicu euphoria.
Perasaan menyenangkan yang riuh.
Terpicu begitu saja.
Aku bisa merasakan darah mengalir deras di tubuhku, bolak balik seperti angkot yang tidak mau ngetem.
Bahkan ingin sekali aku meminjam rompi anti peluru-nya si Silvester Stallone di pilem Expandebles agar deguban jantungku tidak terlihat dari luar kemejaku.
Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku.
Hal ini memaksa otakku agar kreatif membuat lebih banyak lelucon lagi untuk kamu.
Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja yang kamu daratkan di perutku.
Ini, aku masih punya dada, pundak, lengan bahkan pipi untuk tempat kamu mencubit sesukamu.
Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu.
Aku benci ketika bersama kamu kita terjebak dalam momen hening.
Aku tidak sengaja merasakan dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, selalu singkat, seolah kebersamaan kita begitu menakutkan bagi waktu.
Aku bahkan tidak sengaja tersakiti saat mendengarmu menceritakan soal dia.
Iya, soal laki-laki itu.
Sakit itu teramat aneh, aku tidak tau cara mengendalikannya.
Aku bahkan tidak sengaja menjadi sangat membenci laki-laki itu maski kusadari dia tidak memiliki salah apa-apa padaku.
Ini aneh dan ada begitu saja.
Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan.
Ah, aku tidak sengaja terus membaui wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku itu.
Terus menerus, hingga pagi menjelang.
Bahkan jika harus, aku tidak akan mencucinya.
Handphone-ku adalah benda yang pertama ku-check begitu aku terbangun.
Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya.
SMS-mu yang berbunyi "Met pagi, udah bangun belum?" itu jauh lebih penting dari semua SMS yang masuk ke inboks pesanku.
Meski selalu sama ditiap paginya.
Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.
Hariku akan buruk jika dalam sehari itu aku tidak memandangi hidung pesekmu barang semenit pun.
Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari.
Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.
Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik.
Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit dan kompleks, ataukah alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?
Aku tidak sengaja menjadikanmu "sebab" dalam setiap "mengapa" yang bermuara di benakku.
Sekali lagi maafkan aku, aku tidak sengaja.
Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.
Aku tidak sengaja mencintaimu.

Rabu, 18 Oktober 2017

Aroma Itu.. Dia Pasti Kekasihku

Tertegun aku.
Kuhentikan sejenak tatapku pada kekasihku.
Kemudian berdiri mencoba menyelidiki sesuatu dengan tatapanku.
“Aroma itu” Gumamku.
Sebuah wangi yang tak asing.
Wangi khas gadisku dimasa lampau.
Wangi yang memang hanya dia pemiliknya.
“Disinikah dia kini?”
Kulihat kearah kerumunan itu.
Memperhatikan tiap celah lalu lalang orang-orang disana.
“Mungkinkah dia?”
Tak kudapat.
Tak kutemui dia.
Akupun terduduk.
Lalu kugenggam jemari wanita disampingku.
“Kaulah kekasihku kini”
Dia hanya tersenyum bingung.

Minggu, 15 Oktober 2017

Hatiku, Menangislah!

Menangislah, hai hatiku!
Aku tak melarangmu
Kau memang butuhkan itu
Tak selamanya getir dunia tertaklukkanmu
Tak selalu penatnya hidup terpahamimu

Menangislah
Terkadang kelopak matamu memang perlu terairi
Terkadang layak isak itu lampiaskan duka terwakili
Teriakkan jika harus
Gemuruhkan bila mampu duka itu terhapus

Tapi jangan dirundung
Karena harimu tak boleh selalu mendung

Puaskan seketika
Sudahi lalu ambil pelita
Tak layak kau lama menderita
Karena tersedia bagimu lebih banyak cerita

Hatiku, menangislah!
Tak apa
Menangislah!

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3