https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Jumat, 15 Maret 2019

Kurasa Aku...

Aku masih terjaga
Tak kunjung terlelap
Masih segar rasanya mataku
Ragaku memang sudah letih tapi sepertinya ia masih enggan dikuasai mimpi

Kurasa hanya aku saja seseorang yang belum terlelap saat ini
Hanya aku yang tersisa yang terbangun di bumi ini malam ini
Sangat lengang
Sangat sunyi
Sangat sepi

Riuh siang tadi lenyap sudah
Tak bersisa
Suara orang-orang di jalanan kini sirna
Hanya detik jam dinding ini saja yang kian terdengar jelas
Bagai beradu dengan suara lelah hela nafasku
Suara gelembung air di galon terkadang menyelingi dari belakang
Entah siapa yang menuangkannya di jam segini
Juga suara cicak, sesekali membuyarkan khayalku
Menghilangkanmu sesebentar dari benakku
Serta suara-suara hewan malam yang sepertinya saling bersahutan di bawah jendela kamarku

Malam ini dingin
Meski tak hujan tapi dingin

Kau pasti telah terlelap
Tertidur pulas di balik selimut hangatmu
Mengalami mimpi
Mimpi yang tak pernah kau bisa ciptakan sendiri
Bermimpi meninggalkan ragamu yang letih
Meninggalkan sejenak bumi ini
Meninggalkan kebosanannya
Meninggalkan kerumitannya
Meninggalkan ketidak-adilannya

Seandainya bisa aku tiba-tiba berada di sampingmu saat ini
Di sampingmu yang sedang tertidur
Akan kunyamankan ragamu yang terdiam itu
Kuhangatkan tubuhmu yang sedang tak kau pedulikan itu
Kuawasi dia yang sedang ditinggalkan jiwanya
Kujaga agar tak satu pun mengganggumu bermain dengan bunga tidurmu

Mengelus lembut pipimu lagi
Membelai pelan rambutmu lagi
Mengecup kecil keningmu lagi
Meremas pelan jemarimu lagi

Bak seorang Raja Mesir yang pernah berucap saat melihat anaknya yang sedang pulas di sisinya,
"Kau tertidur nyenyak sekali karena kau tahu bahwa kau dicintai."
Aku juga pasti akan mengatakan itu
Membisikkan itu di telingamu yang sedang tidak kau fungsikan untuk mendengar
Meski kau acuhkan, aku tak peduli
Akan tetap kubisikkan untukmu

Karena...
Kurasa aku...
Rindu.


Jumat, 08 Maret 2019

Ya, Aku Tercukupkan

Jika indah memiliki kata lain yang lebih indah dari indah
Akan kuucapkan untukmu

Jika cantik memiliki kata lain yang lebih cantik dari cantik
Akan kuutarakan padamu

Jika sempurna memiliki kata lain yang lebih sempurna dari kata sempurna
Akan kubisikkan padamu

Karena begitu
Memang begitu
Dirimu

Bukan indah seperti yang kau lihat untuk bisa tampak indah
Bukan cantik seperti yang kau tahu untuk bisa terlihat cantik
Bukan sempurna seperti yang kau mengerti untuk bisa jadi sempurna

Sebagaimana dirimu saja
Sebagaimana kau adanya
Karena kau ibarat porsi yang 'cukup'
Tak kurang, tak lebih

Karena cukup tak harus memiliki kata lain untuk mewakili cukup

Cukup
Ya, aku tercukupkan.

Rabu, 22 Agustus 2018

Selamat Ulang Tahun, Sang Terakhir

Saat semua bertanya;
"Apa yang membuatmu memilihnya?
Apa yang akhirnya membuatmu menjadikan dia pilihan terakhirmu?"

Akan kujawab;
"Dialah tempat ternyamanku.
Padanya aku yakin menunjukkan siapa sebenarnya aku.
Apa cacatku dan lebihku.
Padanya tak kutemukan keluhan atas ketidakmampuanku.
Padanya tak kutemukan caci atas celaku.
Bahkan sebaliknya, ia bangunkan aku.
Membanggakanku saat yang lainnya menyerah atasku.

Padanya semua itu kutitipkan dengan yakin.
Dan dengan indahnya dia menyambutku bersama semua hal burukku.
Dia yang kutemukan tepat tak terlambat.
Dan yang kutemukan tanpa rencana.
Dia disana menungguku tawarkan tulus saat semua sejenisnya harapkan pamrih.
Dia disana menungguku suguhkan senyum saat semua sejenisnya rencanakan tangis.

Parasnya, tak hanya itu indahnya.
Sederhananya, bukan sebatas itu kemampuannya.
Dia tak suka berlebih atau dilebihkan.
Tak butuh diakui dengan cara tinggi.
Dia memberi saat aku tak punya.
Meski itu disaat ketidakpunyaannya.
Dia selalu berusaha sempurna untukku.
Walau sebenarnya tanpa itu dia sudah cukup sempurna.

Dia akan menambal lubang yang ada padaku meski itu harus menciptakan lubang baru padanya.
Dan akan kuupayakan menambal lubang yang ada padanya meski itu juga harus membuat lubang baru padaku.

Dia akan tertawa saat ingin tertawa.
Dia akan menangis saat ingin menangis.
Dia akan bermanja saat aku berhasil ciptakan rasa nyaman di sisinya.
Bahkan dia akan marah saat sesuatu tak menyenangkan kuberikan padanya.
Begitulah dia, sebegitu adanya.
Seadanya.

Dialah perempuanku yang tak lagi malu mengeluarkan suasana hatinya di depanku.
Meluapkan segalanya tanpa malu.
Menjadikan dirinya adalah aku.

Dan jika saja semua tentangnya harus kutuliskan dalam kertas, akan tiada cukup selembar.
Dan kau pasti akan jenuh membacanya".

Itu jawabanku.
Akan kujawab demikian.

Terima kasih Tuhan karena menciptakan makhluk indah sepertinya.
Terima kasih Sayang karena ternyata kaulah sosok itu.

Aku menyayangimu, masih sehebat kemarin.
Bahkan kian hebatnya hari ini.
Yang kuyakin kian hebatnya pula nanti.

Menua sudah dirimu.
Tak lagi muda dan belia.
Tegar, aku tak ragukan itu darimu.
Tetaplah sederhana dan manja.
Tetaplah cemburu dan menyebalkan.
Karena aku suka itu.
Maka tetaplah demikian untuk kita kini.
Untuk kita di ratusan Ulang Tahunmu nanti.

Kaulah kekasihku, sahabat hidupku.
Yang kurencanakan terakhir.

Selamat Ulang Tahun, Sang Terakhir.

Thursday, Aug 23 2018, 02.23 am

Kamis, 01 Februari 2018

Rembulan Menyaksikanku Bernyanyi

Rembulan menyaksikanku bernyanyi.
Melihatku melantunkan gita-gita rindu.
Menatapku yang sedari tadi sendiri merangkai lagu.
Lagu untuknya.
Untuk perempuanku.
Makhluk manjaku yang saat ini pasti tengah terlelap syahdu di balik selimut hangatnya.

Cahaya redupmu enggan menampakkan diri.
Bersembunyi di balik awan yang temaram kelam.
Kumpulan awan gelap itu kau jadikan tameng.
Mungkin supaya laguku tak terkecoh karena hadirnya.

Tak apa.
Kemari, lihatlah.
Jangan bersembunyi.
Aku bernyanyi memang agar kau lihat.
Agar kau tahu bahwa aku sedang memiliki rindu yang hebat.
Agar sampaikan padanya tentang ini.
Tentang rindu yang mendekap.
Pada gadisku.

Hujan pun baru saja berhenti.
Hanya tetes-tetes terakhirnya saja yang tersisa di dahan.
Pun di atas atap.
Bumi bagai bosan oleh basahnya sehari.
Tak sejengkal pun tanah kering dibiarkannya.
Mengubah debu menjadi lumpur.

Angin ini.
Terkadang kencang terkadang sayu.
Membawa suara riuh dari kehidupan di seberang sana.
Terkedang jelas terkadang menghilang.
Sesukanya menghadirkan suara itu di telingaku.

Pun suara hewan-hewan malam.
Kini mulai meramai.
Mulai saling bersahutan diantara belukar itu.
Diantara dedaunan basah.
Dan dahan yang tertahan di aliran air yang surut.
Bagai berbicara dengan bahasa yang hanya mereka yang pahami.
Mungkin senang atas hujan yang sudah mereda.
Atau mungkin hanya ingin meriuhkan sepi malam saja?

Kembali padamu, wahai rembulan.
Aku menuliskan ini di jeda letihku bernyanyi.
Di celah lelahku lantunkan banyak dendang.
Kau tak lagi bersembunyi.
Kini jelas menatapku berani.
Aku melihatmu.
Kau melihatku.
Kau melihat dia yang ingin kulihat.
Sampaikan padanya,
"Aku rindu."

Selasa, 30 Januari 2018

Percaya Saja

Ini adalah sesuatu hal yang penting dariku yang sangat perlu untuk kau ketahui, wahai perempuanku.

Aku sangat yakin sedang menyayangimu.
Sangat sadar tengah meletakkan seluruh hatiku padamu untuk kau rawat dan kau pelihara sesukamu.
Mencintaimu dengan kesadaran yang penuh dan tulus sedang kualami kini.
Jadi, jika suatu saat ada seorang sejenismu perempuan yang terlihat akrab denganku, jangan menyimpan prasangka buruk atasku, terlebih memendamnya.

Dia atau siapapun itu bukanlah tandinganmu.
Mereka tak berhak atas tempatmu disini, di hatiku.
Mereka hanya penambah pelengkap kagummu atasku karena aku sebagai lelakimu dibutuhkan untuk membagikan sedikit pengetahuanku tentang kehidupan.
Mereka hanya ingin bercerita dan meminta beberapa saran dariku.
Mereka mungkin akan menangis, tapi dada ini adalah milikmu dan mereka atau siapapun tak berhak menyandarkan kepalanya disitu.
Batasan itu akan tetap kujaga.
Percayalah.

Mereka bahkan mungkin akan meluapkan segala emosinya dengan berbagai cara.
Kuminta padamu agar percaya bahwa aku bisa menanganinya dengan kesadaran penuh bahwa aku sedang dimiliki olehmu.
Aku pasti dibutuhkan oleh siapa saja untuk mereka bercerita tentang hidupnya, bahkan pribadinya.
Jangan membatasiku saat aku mendalami potensiku bahwa pengetahuanku berguna bagi mereka.
Tetapi justru tumbuhkanlah kagummu atasku yang mampu membagikan sebagian kecil pengetahuanku.

Kaulah pemilik hati ini.
Kaulah pemilik segenap tentangku.
Cerita dan upaya yang kuberikan pada mereka masih sangat terlalu sedikit dibanding yang telah dan yang akan kuberikan untukmu.

Padamu bahkan telah kurencanakan masa depanku.
Jadi pantaskah wajah dan dagu cantikmu itu kau rubah ke ekspresi cemberut, cemburu bahkan marah?
Atau, pantaskah aku harus berbagi tempat di hatimu bersama sebulir bibit kecewa di sana?

Tapi di atas semua itu, kau masih berhak melarangku.
Kau berhak menghentikanku melakukan semua itu.
Karena memang kaulah fokusku.
Padamulah selayaknya hati ini tertuju.
Utuh.
Karena aku menyayangimu, perempuanku.
Ya..
Aku sadar sedang menyayangimu.

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3