Memudar, usang dan tak terawat
Terabaikan dan tak terpelihara.
Jika masih ada, biarkanlah.
Dan jikalau sudah musnah tak mengapa.
Semua pun kembali normal lagi.
Kembali kesedia kala.
Tak ada lagi deguban jantung yang menggebu.
Tak ada telapak tangan yang keringatan.
Tak ada rasa takut.
Tak ada harapan.
Sirna seiring hari yang terlewat.
Datar..
Bahkan kian datar.
Kemarau itu tak lagi inginkan hujan.
Biarkan sajalah.
Toh aku bahagia dengan kemarauku.
Sudut itu pun akhirnya kembali menjadi sahabatku.
Jadi satu tempat terfavoritku lagi saat ini.
Karena aku akan menjadi diriku sebenarnya saat berada disana.
Hanya disana aku bisa melakukan apa saja yang memang ingin kulakukan.
Tak ada dirimu yang kian jauh.
Tak ada kalian.
Tak ada masalah-masalahku yang menyesakkan itu.
Biasanya..
Aku akan merenung setibanya disudut itu.
Lalu menangis.
Kemudian berteriak.
Dan akhirnya tertidur karena lelah.
Tersudahi sejenak sesak beban dibenak.
Meskipun saat terbangun nanti aku yakin itu akan muncul kembali.
Dan saat ini, saat tulisan ini kubuat.
Aku baru saja berteriak.
Hanya kali ini lewat tulisan.
Bising namun hening.
Untuk siapa saja yang membacanya.
Meski bukan ditelingamu.
Sudahlah aku lelah.
Aku ingin tidur saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar