https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Minggu, 12 Februari 2017

Terkadang

Terkadang, ada kalanya suatu malam aku ingin sekali berbicara denganmu.
Dengan bertindak bodoh meyakinkan diriku sendiri bahwa kau pasti akan meneleponku saat itu juga.
Untuk beberapa saat kuperhatikan ponselku dan melihat bayangan wajahmu di layarnya.
Samar oleh imajinasiku sendiri.
Tentu, tetap dengan hidung pesek itu.
Dan, ya, akhirnya, kau tau?
Aku selalu meleset.
Ponselku bahkan tidak berbunyi.
Bahkan tidak dari siapapun malam itu.

Ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Memang selalu ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Hanya denganmu.
Bukan yang lain.
Berbicara dan membahas segalanya lagi.
Tentu maksudku dengan cara yang ringan dan apa adanya.
Menceritakan hal-hal bodoh yang kita lakukan saat masih bersama dulu.
Lalu sama-sama menertawainya meski pada akhirnya kita sadar bahwa kita masih merindukannya.
Atau mungkin membahas adegan-adegan yang terlewatkan yang seharusnya kita lakukan dengan cara tertentu.
Lalu kita sama-sama kembali menertawainya.

Ada kalanya ingin bercerita denganmu.
Bukan tidak ingin jika aku saja yang meneleponmu.
Hanya saja, kau tau?
Waktumu.
Situasimu.
Timing yang kukhawatirkan tidak tepat.
Dan kau tahu itu kan?
Aku selalu benci dengan "dimana saat aku yakin ingin meneleponmu, kau sedang sibuk "
Sehingga selalu kuputuskan biar aku saja yang menunggu telepon darimu.

Ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Tentang apa saja.
Tentang apapun itu.
Meski selalu sama dan berulang-ulang setiap malamnya.
Namun itu tidak akan pernah membosankan.
Kita akan sangat bahagia melakukannya.
Meski kemudian harus tertunduk bungkam menyadari bahwa kita tidak lagi bersama.
Itu lucu dan sangat lucu.
Aku bahkan terkadang tak habis pikir jika harus memikirkannya.
Tapi, ya sudahlah, bagaimana pun juga aku ingin tetap bisa mengobrol denganmu.
Karena selalu ada kalanya aku ingin sekali mengobrol denganmu.
Ada kalanya ingin sekali mengobrol denganmu.
Jadi,
Telepon aku, oke??

Jumat, 13 Januari 2017

Aku, Pialamu.

Tawa itu perlahan tawar.
Terumbar hambar.
Kini hanya jadi pelengkap.
Bahkan jadi tameng penutup jengah yang terperangkap.

Tangis ini yang kini kerap hadir.
Ada tanpa hambat dan terlalu kerap mengalir.

Kau yang dulu penuh kebaruan sekarang t'lah terasa jauh.
Aku memang memiliki hatimu disini.
Aku memiliki ragamu.
Dan aku yakin itu!
Tapi dimana jiwamu?
Kau tak lebih hanya sekedar seonggok tubuh kaku yang kalah.
Yang hilang indahnya.
Pudar pesonanya.
Entah oleh apa.

Kau tak seharusnya berhenti setelah memenangkan hatiku.
Kau tak seharusnya segera puas setelah mendapat pialamu.
Ya, pialamu!
Aku pialamu.
Kau punya tugas untuk merawat piala ini.
Tak hanya berdiam setelah kau genggam dan miliki.

Karena yakinlah,
Banyak pejuang lain di luar sana yang juga turut berjuang untuk piala ini.
Yang rela melakukan apa saja untuk menggantikan posisimu.

Namun aku sudah terlanjur.
Ya, aku terlanjur menjadi pialamu.
Dan aku nyaman berada diantara jemarimu.
Bukan diantara jejeran piala lain di bupet pialamu.
Tempatkan aku di suatu tempat yang beda dengan mereka.
Karena piala yang satu ini adalah piala yang rapuh.

Aku suka caramu saat dulu berusaha memenangkanku.
Aku suka prosesnya.
Aku suka suasananya.
Aku tak peduli trik busukmu jika ada pada saat itu.
Namun aku yakin kini kau pasti menyadarinya.
Dan aku suka kau memenangkanku.
Dan aku ingin tetap menjadi pialamu.

Rawat aku...
Kilaukan aku selalu.
Bedakan aku.
Karena jemarimu adalah tempatku.
Dan kaulah juaraku.

Rabu, 07 Desember 2016

Bising Namun Hening

Memudar, usang dan tak terawat

Terabaikan dan tak terpelihara.
Jika masih ada, biarkanlah.

Dan jikalau sudah musnah tak mengapa.

Semua pun kembali normal lagi. 
Kembali kesedia kala. 

Tak ada lagi deguban jantung yang menggebu. 
Tak ada telapak tangan yang keringatan. 
Tak ada rasa takut. 
Tak ada harapan. 
Sirna seiring hari yang terlewat. 

Datar.. 
Bahkan kian datar. 
Kemarau itu tak lagi inginkan hujan. 

Biarkan sajalah. 
Toh aku bahagia dengan kemarauku. 
Sudut itu pun akhirnya kembali menjadi sahabatku. 
Jadi satu tempat terfavoritku lagi saat ini. 
Karena aku akan menjadi diriku sebenarnya saat berada disana. 
Hanya disana aku bisa melakukan apa saja yang memang ingin kulakukan. 
Tak ada dirimu yang kian jauh. 
Tak ada kalian. 
Tak ada masalah-masalahku yang menyesakkan itu. 

Biasanya.. 
Aku akan merenung setibanya disudut itu. 
Lalu menangis. 
Kemudian berteriak. 
Dan akhirnya tertidur karena lelah. 
Tersudahi sejenak sesak beban dibenak. 
Meskipun saat terbangun nanti aku yakin itu akan muncul kembali. 
Dan saat ini, saat tulisan ini kubuat. 
Aku baru saja berteriak. 
Hanya kali ini lewat tulisan. 
Bising namun hening. 
Untuk siapa saja yang membacanya. 
Meski bukan ditelingamu. 
Sudahlah aku lelah. 
Aku ingin tidur saja.

Selalu Baru Ditiap Pagi

Dia mencintaiku tulus.
Setulus mentari bersinar terus.
Dia menyayangiku ikhlas.
Bak rembulan yang tak harap balas.
Dia merindukanku tiada henti.
Bagai tak letih.
Selalu baru ditiap hari.
Seperti sungai yang tak punya muara untuk berhenti.
Dia mengagumiku murni.
Seperti embun yang paling jernih.
Ada rasa sukur tiap aku menatap lama dimatanya.
Ada terimakasih yang begitu indah saat dia bermanja.
Ada saat yakin sang hati berkata "dialah orangnya" ditiap dia mendekapku.
Aku mencintaimu sayang masih sehebat kemarin.
Aku menyayangimu "kompeng"ku masih segelora kemarin.
Dan akan kujaga untuk tetap seperti itu.
Hingga tak ada lagi kata "seperti kemarin".
Akan baru ditiap paginya..

Aku Ingin Rasakan Hujan

Kala itu mendung
Tak bergelayutan awan-awan putih yang biasanya abstrak
Hitam
Bahkan kian hitam
Makhluk-makhluk kecil disana tak lagi riuh bermain riang
Menatap aku pada warna kelam didepanku
Dan membelakangi warna cerah dibelakangku
Enggan aku beranjak dari tempatku yang sama sekali tak teduh
"Aku ingin rasakan hujan"
Tanpa angin gaduh hanya tenang
Tanpa gemuruh hanya lengang
Tutup mulutmu wahai kau yang mengajakku berteduh
Enyahlah jangan memanggilku
Menyingkirlah kau yang hendak menyaungiku dengan jaket putih lusuhmu
Jangan ganggu aku
Aku ingin rasakan hujanku
Aku ingin nikmati tetes pertamanya menyentuh wajahku
"Aku ingin rasakan hujan".

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3