Kau tahu, kenapa aku suka menatap lama pada wajahmu?
Itu karena dagumu.
Organ cantik yang tercantik yang tercipta di antara organ-organ lain di wajahmu.
Bentuknya indah.
Terlebih saat kau tersenyum.
Runcing dan terbentuk rapi mengikuti lekuk garis senyummu.
Dagumu tercipta sepaket dengan wajahmu.
Dagumu mempercantik organ lainnya.
Dagumu membiaskan cacat yang kasat di sekitarnya.
Jika aku suka menatap lama di wajahmu, itu karena dia.
Karena dagumu.
Dagumu adalah penyebabnya.
Salahkan dia, jangan mataku.
Dialah sumbernya.
Dagumu yang mengundang mataku untuk fokus ke arah wajahmu.
Pesonanya yang menarikku.
Hingga akhirnya matamu mengirimkan sebuah hormon pada otakmu yang menciptakan ephoria tak terkendali.
Kau grogi.
Tak paham antara ingin tersenyum atau bersembunyi.
Dan jika situasi itu berlangsung terlalu lama, dan kau semakin tak paham harus bertingkah apa, otakmu akan memberi perintah pada tanganmu untuk menghardik wajahku.
Lalu momen itu pun usai.
Buyar dan selesai.
Dan aku harus mampu merakit momen itu lagi dari awal.
Dagumu...
Mungkin adalah organ yang dulunya tercipta pertama kali dari antara organ-organ lainnya.
Mungkin dialah yang pertama kali terbentuk saat kau masih embrio.
Melupakan fakta bahwa mulutlah yang pertama kali terbentuk dalam rahim.
Sehingga semua keindahan yang direncanakan untuk seluruh tubuhmu terserap habis olehnya.
Tapi, entahlah.
Itu hanya anggapan liarku semata.
Itu karena dia terlalu indah.
Terlalu cantik untuk dikatakan menjadi sebuah dagu.
Maka, kumohon biarkan tetap begitu.
Biarkan dia tetap indah di tempatnya.
Setidaknya untukku.
Hanya untukku.
Dan biarkan aku tetap mengaguminya.
Menciptakan rasa ketertarikan eksklusif untuknya.
Jangan melarangku menatap lama padanya.
Jadi percuma kau menutup matamu saat aku fokus di wajahmu.
Karena aku masih melihat dagumu.
Karena dagumulah fokusku.
Dagumulah kagumku.
Kini.
Dan nanti.
