https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Senin, 15 Januari 2018

Itu Dagumu...

Kau tahu, kenapa aku suka menatap lama pada wajahmu?
Itu karena dagumu.
Organ cantik yang tercantik yang tercipta di antara organ-organ lain di wajahmu.
Bentuknya indah.
Terlebih saat kau tersenyum.
Runcing dan terbentuk rapi mengikuti lekuk garis senyummu.
Dagumu tercipta sepaket dengan wajahmu.
Dagumu mempercantik organ lainnya.
Dagumu membiaskan cacat yang kasat di sekitarnya.

Jika aku suka menatap lama di wajahmu, itu karena dia.
Karena dagumu.
Dagumu adalah penyebabnya.
Salahkan dia, jangan mataku.
Dialah sumbernya.
Dagumu yang mengundang mataku untuk fokus ke arah wajahmu.
Pesonanya yang menarikku.
Hingga akhirnya matamu mengirimkan sebuah hormon pada otakmu yang menciptakan ephoria tak terkendali.
Kau grogi.
Tak paham antara ingin tersenyum atau bersembunyi.
Dan jika situasi itu berlangsung terlalu lama, dan kau semakin tak paham harus bertingkah apa, otakmu akan memberi perintah pada tanganmu untuk menghardik wajahku.
Lalu momen itu pun usai.
Buyar dan selesai.
Dan aku harus mampu merakit momen itu lagi dari awal.

Dagumu...
Mungkin adalah organ yang dulunya tercipta pertama kali dari antara organ-organ lainnya.
Mungkin dialah yang pertama kali terbentuk saat kau masih embrio.
Melupakan fakta bahwa mulutlah yang pertama kali terbentuk dalam rahim.
Sehingga semua keindahan yang direncanakan untuk seluruh tubuhmu terserap habis olehnya.
Tapi, entahlah.
Itu hanya anggapan liarku semata.
Itu karena dia terlalu indah.
Terlalu cantik untuk dikatakan menjadi sebuah dagu.

Maka, kumohon biarkan tetap begitu.
Biarkan dia tetap indah di tempatnya.
Setidaknya untukku.
Hanya untukku.
Dan biarkan aku tetap mengaguminya.
Menciptakan rasa ketertarikan eksklusif untuknya.
Jangan melarangku menatap lama padanya.
Jadi percuma kau menutup matamu saat aku fokus di wajahmu.
Karena aku masih melihat dagumu.
Karena dagumulah fokusku.
Dagumulah kagumku.
Kini.
Dan nanti.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Maaf, Aku Tak Sengaja

Aku tidak sengaja menyukaimu.
Ini bukan sesuatu yang kurencana di dalam kamarku semalaman.
Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu.
Dan ketika kamu balik melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing terjauh yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga agar kamu tidak tahu aku sedang memandangimu.
Aku takut kamu marah walau sebenarnya kamu selalu tersenyum jika mendapatiku baru saja memandangimu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu.
Itu lebih berharga dibanding berada satu momen dengan Obama sekalipun.
Aku tidak sengaja memiliki sesuatu yang ingin sekali kuceritakan denganmu namun tidak tahu harus memulainya darimana.
Aku tidak sengaja selalu mengundur mengatakannya setiap momen tepat itu datang.
Aku tetap selalu tidak siap meski sudah merencanakannya semalaman dengan sangat sangat matang.
Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama.
Contohnya di Perpustakaan. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus.
Jadi kumohon, buku novel itu dan charger handphone yang kupinjamkan itu jangan kembalikan bebarengan.
Aku rela musti harus berantam dulu dengan teman sekamarku tiap meminjam casan hapenya dan selalu berbohong soal novel miliknya itu.
Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya.
Ketahuilah, disini masih banyak novel bagus milik teman sekamarku.
Semuanya tidak sengaja beralasan begitu saja agar kita tetap bisa bertemu.
Aku tidak sengaja mengaktifkan zat phenylethylamine di dalam sistem otakku saat dekat kamu.
Dan itu memicu euphoria.
Perasaan menyenangkan yang riuh.
Terpicu begitu saja.
Aku bisa merasakan darah mengalir deras di tubuhku, bolak balik seperti angkot yang tidak mau ngetem.
Bahkan ingin sekali aku meminjam rompi anti peluru-nya si Silvester Stallone di pilem Expandebles agar deguban jantungku tidak terlihat dari luar kemejaku.
Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku.
Hal ini memaksa otakku agar kreatif membuat lebih banyak lelucon lagi untuk kamu.
Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja yang kamu daratkan di perutku.
Ini, aku masih punya dada, pundak, lengan bahkan pipi untuk tempat kamu mencubit sesukamu.
Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu.
Aku benci ketika bersama kamu kita terjebak dalam momen hening.
Aku tidak sengaja merasakan dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, selalu singkat, seolah kebersamaan kita begitu menakutkan bagi waktu.
Aku bahkan tidak sengaja tersakiti saat mendengarmu menceritakan soal dia.
Iya, soal laki-laki itu.
Sakit itu teramat aneh, aku tidak tau cara mengendalikannya.
Aku bahkan tidak sengaja menjadi sangat membenci laki-laki itu maski kusadari dia tidak memiliki salah apa-apa padaku.
Ini aneh dan ada begitu saja.
Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan.
Ah, aku tidak sengaja terus membaui wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku itu.
Terus menerus, hingga pagi menjelang.
Bahkan jika harus, aku tidak akan mencucinya.
Handphone-ku adalah benda yang pertama ku-check begitu aku terbangun.
Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya.
SMS-mu yang berbunyi "Met pagi, udah bangun belum?" itu jauh lebih penting dari semua SMS yang masuk ke inboks pesanku.
Meski selalu sama ditiap paginya.
Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.
Hariku akan buruk jika dalam sehari itu aku tidak memandangi hidung pesekmu barang semenit pun.
Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari.
Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.
Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik.
Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit dan kompleks, ataukah alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?
Aku tidak sengaja menjadikanmu "sebab" dalam setiap "mengapa" yang bermuara di benakku.
Sekali lagi maafkan aku, aku tidak sengaja.
Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.
Aku tidak sengaja mencintaimu.

Rabu, 18 Oktober 2017

Aroma Itu.. Dia Pasti Kekasihku

Tertegun aku.
Kuhentikan sejenak tatapku pada kekasihku.
Kemudian berdiri mencoba menyelidiki sesuatu dengan tatapanku.
“Aroma itu” Gumamku.
Sebuah wangi yang tak asing.
Wangi khas gadisku dimasa lampau.
Wangi yang memang hanya dia pemiliknya.
“Disinikah dia kini?”
Kulihat kearah kerumunan itu.
Memperhatikan tiap celah lalu lalang orang-orang disana.
“Mungkinkah dia?”
Tak kudapat.
Tak kutemui dia.
Akupun terduduk.
Lalu kugenggam jemari wanita disampingku.
“Kaulah kekasihku kini”
Dia hanya tersenyum bingung.

Minggu, 15 Oktober 2017

Hatiku, Menangislah!

Menangislah, hai hatiku!
Aku tak melarangmu
Kau memang butuhkan itu
Tak selamanya getir dunia tertaklukkanmu
Tak selalu penatnya hidup terpahamimu

Menangislah
Terkadang kelopak matamu memang perlu terairi
Terkadang layak isak itu lampiaskan duka terwakili
Teriakkan jika harus
Gemuruhkan bila mampu duka itu terhapus

Tapi jangan dirundung
Karena harimu tak boleh selalu mendung

Puaskan seketika
Sudahi lalu ambil pelita
Tak layak kau lama menderita
Karena tersedia bagimu lebih banyak cerita

Hatiku, menangislah!
Tak apa
Menangislah!

Minggu, 10 September 2017

Hai, Kau Yang Jauh Disana!

Hai, kau yang jauh disana!
Yang padamu kuletakkan rasa percaya dan cintaku.
Sedang apa?
Apa sedang memikirkanku juga seperti yang kulakukan saat ini?
Aku merindukanmu.
Sangat merindukanmu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Yang terpisah oleh jarak denganku.
Aku tahu kita jauh.
Tapi kau adalah yang terdekat dari apa yang paling dekat denganku.
Jarak ini hanya sementara.
Percaya saja.
Karena aku yakin itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Bagaimana harimu hari ini?
Apakah membosankan?
Mengecewakan?
Jenuh tanpaku?
Hahaaa...
Disini aku juga bosan tanpamu.
Hariku tak pernah luar biasa lagi tanpamu.
Karena kaulah luar biasa-ku.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Bertahanlah.
Karena aku juga bertahan untukmu.
Karena semua mimpi kita terlalu sayang jika kurusak hanya karena rasa bosanku.
Takkan kurusak itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Mimpi itu masih kupegang, kok.
Bahkan sangat erat.
Lebih erat dari balon hijau.
Heheee...
Meski banyak uji mendekatiku.
Banyak sosok yang datang tawarkan kelebihannya.
Bahkan tak bisa kubohongi kalau mereka memang melebihimu.
Tapi tenanglah!
Aku sudah sangat tercukupkan olehmu.
Aku akan berhenti padamu.
Kau mencukupkanku.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Meski tak dapat kusentuh,
Tapi wajah dan suaramu sudah lebih dari cukup untukku menutup hari ini.
Mencandakan hal yang sama berulang-ulang di telepon denganmu, masih menyenangkanku.
Kau adalah hal terakhir yang kupikirkan sebelum aku tertidur.
Senyumku masih tentang kita sesaat sebelum aku menutup mata.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Selamat pagi!
Kau sosok pertama yang kupikirkan begitu aku terbangun tadi.
Iya, kau!
Terima kasih untuk tawa hangat semalam.
Terima kasih untuk caramu yang fokus membuatku tertawa.
Aku suka dan aku tahu,
Kau sungguh mengupayakan segalanya untukku.
Dalam pikiranmu penuh tentang rencana-rencanamu membahagiakanku.
Aku percaya itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana.
Berceritalah jika kau sampai rasakan hal lain atasku.
Karena aku tak bisa menatap bahasa tubuhmu jika aku membuatmu tak nyaman.
Ceritakan denganku.
Bahas segalanya padaku.
Bahkan jika itu tentang keburukanku.
Karena hanya padamu aku berani tampil jelek dan manja.
Hanya padamu aku berani menunjukkan siapa sebenarnya aku.
Si roa balang ini.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Kau tahu?
Aku paling rindu baumu saat ini.
Iya, bau tubuhmu!
Bau yang kurasa hanya kau pemiliknya.
Bau yang membiasakanku.
Yang aku terbiasa menjalani hariku dengannya.
Masih tersisa di boneka ini.
Di boneka pemberianmu yang makin mengempis.
Walau baumu padanya makin pudar, tapi aku masih bisa mengingatnya.
Karena baumu adalah satu-satunya bau yang bisa kuingat.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana.
Berdoalah untukku, untuk kita.
Karena aku juga berdoa untukmu, untuk kita.
Karena hanya dengan Doa, aku paham caraku mencintaimu dari jauh.
Namamu jauh lebih banyak kusebutkan dalam doaku melebihi namaku sendiri.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Terima kasih.
Terima kasih untuk segalanya.
Terima kasih karena telah menemukanku.
Terima kasih karena telah memilihku.
Aku...
Mencintaimu.
Sungguh!

Fri, Sept 08, 17

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3