https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Jumat, 13 Januari 2017

Aku, Pialamu.

Tawa itu perlahan tawar.
Terumbar hambar.
Kini hanya jadi pelengkap.
Bahkan jadi tameng penutup jengah yang terperangkap.

Tangis ini yang kini kerap hadir.
Ada tanpa hambat dan terlalu kerap mengalir.

Kau yang dulu penuh kebaruan sekarang t'lah terasa jauh.
Aku memang memiliki hatimu disini.
Aku memiliki ragamu.
Dan aku yakin itu!
Tapi dimana jiwamu?
Kau tak lebih hanya sekedar seonggok tubuh kaku yang kalah.
Yang hilang indahnya.
Pudar pesonanya.
Entah oleh apa.

Kau tak seharusnya berhenti setelah memenangkan hatiku.
Kau tak seharusnya segera puas setelah mendapat pialamu.
Ya, pialamu!
Aku pialamu.
Kau punya tugas untuk merawat piala ini.
Tak hanya berdiam setelah kau genggam dan miliki.

Karena yakinlah,
Banyak pejuang lain di luar sana yang juga turut berjuang untuk piala ini.
Yang rela melakukan apa saja untuk menggantikan posisimu.

Namun aku sudah terlanjur.
Ya, aku terlanjur menjadi pialamu.
Dan aku nyaman berada diantara jemarimu.
Bukan diantara jejeran piala lain di bupet pialamu.
Tempatkan aku di suatu tempat yang beda dengan mereka.
Karena piala yang satu ini adalah piala yang rapuh.

Aku suka caramu saat dulu berusaha memenangkanku.
Aku suka prosesnya.
Aku suka suasananya.
Aku tak peduli trik busukmu jika ada pada saat itu.
Namun aku yakin kini kau pasti menyadarinya.
Dan aku suka kau memenangkanku.
Dan aku ingin tetap menjadi pialamu.

Rawat aku...
Kilaukan aku selalu.
Bedakan aku.
Karena jemarimu adalah tempatku.
Dan kaulah juaraku.

Rabu, 07 Desember 2016

Bising Namun Hening

Memudar, usang dan tak terawat

Terabaikan dan tak terpelihara.
Jika masih ada, biarkanlah.

Dan jikalau sudah musnah tak mengapa.

Semua pun kembali normal lagi. 
Kembali kesedia kala. 

Tak ada lagi deguban jantung yang menggebu. 
Tak ada telapak tangan yang keringatan. 
Tak ada rasa takut. 
Tak ada harapan. 
Sirna seiring hari yang terlewat. 

Datar.. 
Bahkan kian datar. 
Kemarau itu tak lagi inginkan hujan. 

Biarkan sajalah. 
Toh aku bahagia dengan kemarauku. 
Sudut itu pun akhirnya kembali menjadi sahabatku. 
Jadi satu tempat terfavoritku lagi saat ini. 
Karena aku akan menjadi diriku sebenarnya saat berada disana. 
Hanya disana aku bisa melakukan apa saja yang memang ingin kulakukan. 
Tak ada dirimu yang kian jauh. 
Tak ada kalian. 
Tak ada masalah-masalahku yang menyesakkan itu. 

Biasanya.. 
Aku akan merenung setibanya disudut itu. 
Lalu menangis. 
Kemudian berteriak. 
Dan akhirnya tertidur karena lelah. 
Tersudahi sejenak sesak beban dibenak. 
Meskipun saat terbangun nanti aku yakin itu akan muncul kembali. 
Dan saat ini, saat tulisan ini kubuat. 
Aku baru saja berteriak. 
Hanya kali ini lewat tulisan. 
Bising namun hening. 
Untuk siapa saja yang membacanya. 
Meski bukan ditelingamu. 
Sudahlah aku lelah. 
Aku ingin tidur saja.

Selalu Baru Ditiap Pagi

Dia mencintaiku tulus.
Setulus mentari bersinar terus.
Dia menyayangiku ikhlas.
Bak rembulan yang tak harap balas.
Dia merindukanku tiada henti.
Bagai tak letih.
Selalu baru ditiap hari.
Seperti sungai yang tak punya muara untuk berhenti.
Dia mengagumiku murni.
Seperti embun yang paling jernih.
Ada rasa sukur tiap aku menatap lama dimatanya.
Ada terimakasih yang begitu indah saat dia bermanja.
Ada saat yakin sang hati berkata "dialah orangnya" ditiap dia mendekapku.
Aku mencintaimu sayang masih sehebat kemarin.
Aku menyayangimu "kompeng"ku masih segelora kemarin.
Dan akan kujaga untuk tetap seperti itu.
Hingga tak ada lagi kata "seperti kemarin".
Akan baru ditiap paginya..

Aku Ingin Rasakan Hujan

Kala itu mendung
Tak bergelayutan awan-awan putih yang biasanya abstrak
Hitam
Bahkan kian hitam
Makhluk-makhluk kecil disana tak lagi riuh bermain riang
Menatap aku pada warna kelam didepanku
Dan membelakangi warna cerah dibelakangku
Enggan aku beranjak dari tempatku yang sama sekali tak teduh
"Aku ingin rasakan hujan"
Tanpa angin gaduh hanya tenang
Tanpa gemuruh hanya lengang
Tutup mulutmu wahai kau yang mengajakku berteduh
Enyahlah jangan memanggilku
Menyingkirlah kau yang hendak menyaungiku dengan jaket putih lusuhmu
Jangan ganggu aku
Aku ingin rasakan hujanku
Aku ingin nikmati tetes pertamanya menyentuh wajahku
"Aku ingin rasakan hujan".

Ya, Aku Rindu

Aku rindu alami rasa itu.
Aku rindu nuansa cinta seperti dulu.
Aku rindukan ragam emosiku.
Saat memiliki seorang hawa lucu.

Aku rindu ucapkan I LOVE YOU.
Aku rindu katakan I MISS YOU.
Aku rindu ciptakan puisi-puisi romantisku yang cuma untuknya aku mendayu.

Aku rindu memuji seorang hawa dengan kata-kata yang kemayu.
Aku rindu menggenggam jemari sang hawa dengan pura-pura bergaya polos malu-malu.
Aku rindu mendekap hangat raga sang hawa sambil berkata aku sayang kamu.

Aku rindu mengecup lembut bibir sang hawa dengan harapan bisa bertindak lebih jauh.
Aku rindu menantang nyaliku dengan pantang mundur terus maju.

Saat momenku harus taklukkan anjing piaraanmu yang setia menungguku tiap aku datang bertamu.

Aku rindu momenku menerima hujaman pertanyaan-pertanyaan bapakmu yang selalu bikin aku jemu.
Aku rindu momenku memuji mamakmu cantik bertubi-tubi padahal udah peot gitu.
Aku rindu momenku nyogok adek-adekmu pake nyuruh mereka beli gorengan cuma buat bisa ninggalin aku sama kamu.

Aku rindu semua itu.
Ya aku rindu..

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3