https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Minggu, 10 September 2017

Hai, Kau Yang Jauh Disana!

Hai, kau yang jauh disana!
Yang padamu kuletakkan rasa percaya dan cintaku.
Sedang apa?
Apa sedang memikirkanku juga seperti yang kulakukan saat ini?
Aku merindukanmu.
Sangat merindukanmu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Yang terpisah oleh jarak denganku.
Aku tahu kita jauh.
Tapi kau adalah yang terdekat dari apa yang paling dekat denganku.
Jarak ini hanya sementara.
Percaya saja.
Karena aku yakin itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Bagaimana harimu hari ini?
Apakah membosankan?
Mengecewakan?
Jenuh tanpaku?
Hahaaa...
Disini aku juga bosan tanpamu.
Hariku tak pernah luar biasa lagi tanpamu.
Karena kaulah luar biasa-ku.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Bertahanlah.
Karena aku juga bertahan untukmu.
Karena semua mimpi kita terlalu sayang jika kurusak hanya karena rasa bosanku.
Takkan kurusak itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Mimpi itu masih kupegang, kok.
Bahkan sangat erat.
Lebih erat dari balon hijau.
Heheee...
Meski banyak uji mendekatiku.
Banyak sosok yang datang tawarkan kelebihannya.
Bahkan tak bisa kubohongi kalau mereka memang melebihimu.
Tapi tenanglah!
Aku sudah sangat tercukupkan olehmu.
Aku akan berhenti padamu.
Kau mencukupkanku.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Meski tak dapat kusentuh,
Tapi wajah dan suaramu sudah lebih dari cukup untukku menutup hari ini.
Mencandakan hal yang sama berulang-ulang di telepon denganmu, masih menyenangkanku.
Kau adalah hal terakhir yang kupikirkan sebelum aku tertidur.
Senyumku masih tentang kita sesaat sebelum aku menutup mata.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Selamat pagi!
Kau sosok pertama yang kupikirkan begitu aku terbangun tadi.
Iya, kau!
Terima kasih untuk tawa hangat semalam.
Terima kasih untuk caramu yang fokus membuatku tertawa.
Aku suka dan aku tahu,
Kau sungguh mengupayakan segalanya untukku.
Dalam pikiranmu penuh tentang rencana-rencanamu membahagiakanku.
Aku percaya itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana.
Berceritalah jika kau sampai rasakan hal lain atasku.
Karena aku tak bisa menatap bahasa tubuhmu jika aku membuatmu tak nyaman.
Ceritakan denganku.
Bahas segalanya padaku.
Bahkan jika itu tentang keburukanku.
Karena hanya padamu aku berani tampil jelek dan manja.
Hanya padamu aku berani menunjukkan siapa sebenarnya aku.
Si roa balang ini.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Kau tahu?
Aku paling rindu baumu saat ini.
Iya, bau tubuhmu!
Bau yang kurasa hanya kau pemiliknya.
Bau yang membiasakanku.
Yang aku terbiasa menjalani hariku dengannya.
Masih tersisa di boneka ini.
Di boneka pemberianmu yang makin mengempis.
Walau baumu padanya makin pudar, tapi aku masih bisa mengingatnya.
Karena baumu adalah satu-satunya bau yang bisa kuingat.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana.
Berdoalah untukku, untuk kita.
Karena aku juga berdoa untukmu, untuk kita.
Karena hanya dengan Doa, aku paham caraku mencintaimu dari jauh.
Namamu jauh lebih banyak kusebutkan dalam doaku melebihi namaku sendiri.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Terima kasih.
Terima kasih untuk segalanya.
Terima kasih karena telah menemukanku.
Terima kasih karena telah memilihku.
Aku...
Mencintaimu.
Sungguh!

Fri, Sept 08, 17

Minggu, 27 Agustus 2017

Berhati-hatilah, Hati!

Ketika kau memancing ikan...
Kemudian ikan melekat di mata kailmu.
Ambillah.
Jangan lepaskan lagi begitu saja ke air.
Karena ia telah sakit oleh tajam mata kailmu.
Dan ia akan bawa luka itu selama hidupnya.

Pun kau...
Ketika berani katakan cinta.
Setelah beri harap banyak padanya.
Setelah ia mulai berikan hatinya.
Kau harus jaga itu.
Jangan tinggalkan begitu saja.
Karena akan luka ia oleh kenangan itu.
Dan mungkin saja membawanya sepanjang hidupnya.

Jika kau punya lukisan cantik...
Anggap ia perhiasan belaka.
Sekedar saja.
Jangan puja indahnya dengan terlalu.
Karena jika menganggapnya tercantik tanpa cela.
Maka patahlah hatimu saat temukan satu bahagian rusaknya.
Pembuangan akan menjadi tempat akhirnya.
Namun jika saja kau coba perbaikinya.
Mungkin ia akan tetap indah.
Berkuranglah sedikit sakit di hatimu.

Pun kau...
Ketika mengenal seseorang.
Anggaplah ia biasa.
Cintamulah yang jangan biasa.
Indahkan dengan cara berbeda.
Taruh cintamu pada ia dengan apa adanya.
Jangan kagumi dengan terlalu.
Karena jika begitu.
Maka saat sekali saja ia lakukan salah.
Kau takkan terima.
Kau pun murka lantas mengakhirinya.
Padahal jika saja kau maafkan.
Takkan putus bagimu kebahagiaan.
Indah yang mungkin berlebih dari sebelumnya.

Jika tersedia bagimu sepiring nasi.
Yang baik bagimu.
Yang memang kau butuh.
Mengenyangkanmu.
Jangan kutuk kesederhanaannya.
Lantas mencari nasi lain.
Kelezatan lain yang melebihinya.
Sibuk mengupayakan yang lebih nikmat.
Suatu saat...
Dikala kau sibuk dalam pencarianmu.
Mengacuhkan nasimu.
Ia akan termakan waktu dan basi.
Dan tak mungkin bagimu memakannya lagi.
Sesal 'kan kau dapati.

Pun kau...
Setelah bertemu seseorang.
Yang bawa banyak kebaikan padamu.
Yang menaruh segala cintanya atasmu.
Yang sayangimu dengan hatinya.
Yang kasihimu dengan caranya.
Mengapa kau sia-siakan?
Mengapa kau acuhkan?
Mengapa kau coba bandingkan dengan yang lain?
Mengapa terlalu sibuk kejar kesempurnaan?
Hingga nasi itu termakan waktu lantas berubah rasa.
Lantas siapa dirimu yang berhak atas kesempurnaan itu?
Kau hanya akan merusak sempurnanya dengan hadirmu yang tidak sempurna.

Pahami saja porsimu.
Kenali batasanmu.
Yang Kuasa selalu sediakan hal yang layak untukmu.
Pun Dia akan jauhkan yang tak layak atasmu.

Maka...
Mencintalah saat siap.
Berhentilah saat tercukupkan.

Miss You so Much, Daddy

Oleh: Mispa Risky Simorangkir

Sejenak merindukannya disini
Saat bahagia kulalui tanpanya
Saat sedih kulalui tanpanya
Saat semua harus kujalani sendiri

Malam sendu pilu hingga dingin kadang mengganggu
Canda tawa hilang dan terhempas
berlalu bersama angin
Tak ada lagi cerita seru itu, tidak ada lagi berbagi pengalaman
Meski semua harus berlalu, selalu ada
rasa rindu disini

Semua begitu indah
Pelupuk mata selalu basah mengenangnya
Kilasan bayangan akan sosok dirinya
Akan selalu ada dalam relung hati terdalam

Ayah...
Aku rindu kebersamaan yang sudah jarang kutemui

Untukmu ayah, aku merindukanmu disini
Untuk selalu menguatkanku dalam menjalani hidup

Miss you so much, Daddy.

Minggu, 20 Agustus 2017

Selamat Malam, Malam.

Selamat malam, kau...
Sudahkah lelap kau tertidur?
Sudahkah jauh kau bermimpi?
Tentang apa kali ini?
Tentangkukah?
Tentang diakah yang kini sudah berhak membuatmu bahagia?
Atau tentang harimu yang selalu membosankan itu?
Sepenat apa kau hari ini?
Bagaimana kau tadi menutup hari?

Selamat malam, rindu...
Ini bukan tentangmu.
Bukan karenamu aku mengadu.
Pun akhirnya tuliskan baitku.
Dia hanya terlintas sesaat hingga kutuliskan ini.
Bukan karena hal yang tertahan dan bersisa.
Aku hanya sudah terbiasa memastikannya baik-baik saja.

Selamat malam, malam...
Awasi dia saat terlelap.
Jaga raganya yang ditinggal bermimpi.
Hangatkan dia di balik selimut hangatnya.
Dan bangunkan dia untuk pagi sesok yang masih membosankannya.

Siapa pun kau yang kini sudah berhak ciptakan bahagia untuknya...,
Selamat malam juga untukmu.
Bahagiakan dia.
Karena tugasku sudah usai.
Sudah selesai.

Selamat malam, kalian.



Senin, 29 Mei 2017

Aku Ingin Menciumimu, Seharian

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menunjukkan kasihku lewat kecupku pada kulitmu.
Menunjukkan betapa inginnya aku selalu bersamamu.
Bermanja sehari penuh pada ragamu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menghirup aroma khas yang hanya tubuhmu pemiliknya.
Sebuah aroma yang hanya dirimu sang empunya.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Meniadakan segalanya untuk sesaat dari dalam benak ini.
Mengosongkan kalbu.
Melenyapkan segalanya sekejap.
Dan mengisinya dengan segala tentangmu.
Fokus padamu dan aromamu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Mengenalimu jiwamu dengan lebih dalam lewat hening.
Lewat momen yang tanpa kata namun intim.
Lewat bahasa tubuh yang hanya kita berdua pemahamnya.
Hening dan senyap yang bicara.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menyapukan lembut bibirku pada seluruh permukaan kulitmu dan mendengarmu melantunkan desah dengan nada yang tak beraturan.
Membakar gairahmu dengan nafasku yang pasti hangat ini.
Meresapi setiap detak jantung itu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Membisikkan gelora pada tubuhmu bahwa tubuh itu yang kini aku mau tiada yang lain.
Bahwa sungguh porsiku telah terpuaskan oleh bentuk dan aromanya.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Ya!
Karena aku memang ingin menciumimu seharian.

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3