https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Rabu, 22 Agustus 2018

Selamat Ulang Tahun, Sang Terakhir

Saat semua bertanya;
"Apa yang membuatmu memilihnya?
Apa yang akhirnya membuatmu menjadikan dia pilihan terakhirmu?"

Akan kujawab;
"Dialah tempat ternyamanku.
Padanya aku yakin menunjukkan siapa sebenarnya aku.
Apa cacatku dan lebihku.
Padanya tak kutemukan keluhan atas ketidakmampuanku.
Padanya tak kutemukan caci atas celaku.
Bahkan sebaliknya, ia bangunkan aku.
Membanggakanku saat yang lainnya menyerah atasku.

Padanya semua itu kutitipkan dengan yakin.
Dan dengan indahnya dia menyambutku bersama semua hal burukku.
Dia yang kutemukan tepat tak terlambat.
Dan yang kutemukan tanpa rencana.
Dia disana menungguku tawarkan tulus saat semua sejenisnya harapkan pamrih.
Dia disana menungguku suguhkan senyum saat semua sejenisnya rencanakan tangis.

Parasnya, tak hanya itu indahnya.
Sederhananya, bukan sebatas itu kemampuannya.
Dia tak suka berlebih atau dilebihkan.
Tak butuh diakui dengan cara tinggi.
Dia memberi saat aku tak punya.
Meski itu disaat ketidakpunyaannya.
Dia selalu berusaha sempurna untukku.
Walau sebenarnya tanpa itu dia sudah cukup sempurna.

Dia akan menambal lubang yang ada padaku meski itu harus menciptakan lubang baru padanya.
Dan akan kuupayakan menambal lubang yang ada padanya meski itu juga harus membuat lubang baru padaku.

Dia akan tertawa saat ingin tertawa.
Dia akan menangis saat ingin menangis.
Dia akan bermanja saat aku berhasil ciptakan rasa nyaman di sisinya.
Bahkan dia akan marah saat sesuatu tak menyenangkan kuberikan padanya.
Begitulah dia, sebegitu adanya.
Seadanya.

Dialah perempuanku yang tak lagi malu mengeluarkan suasana hatinya di depanku.
Meluapkan segalanya tanpa malu.
Menjadikan dirinya adalah aku.

Dan jika saja semua tentangnya harus kutuliskan dalam kertas, akan tiada cukup selembar.
Dan kau pasti akan jenuh membacanya".

Itu jawabanku.
Akan kujawab demikian.

Terima kasih Tuhan karena menciptakan makhluk indah sepertinya.
Terima kasih Sayang karena ternyata kaulah sosok itu.

Aku menyayangimu, masih sehebat kemarin.
Bahkan kian hebatnya hari ini.
Yang kuyakin kian hebatnya pula nanti.

Menua sudah dirimu.
Tak lagi muda dan belia.
Tegar, aku tak ragukan itu darimu.
Tetaplah sederhana dan manja.
Tetaplah cemburu dan menyebalkan.
Karena aku suka itu.
Maka tetaplah demikian untuk kita kini.
Untuk kita di ratusan Ulang Tahunmu nanti.

Kaulah kekasihku, sahabat hidupku.
Yang kurencanakan terakhir.

Selamat Ulang Tahun, Sang Terakhir.

Thursday, Aug 23 2018, 02.23 am

Kamis, 01 Februari 2018

Rembulan Menyaksikanku Bernyanyi

Rembulan menyaksikanku bernyanyi.
Melihatku melantunkan gita-gita rindu.
Menatapku yang sedari tadi sendiri merangkai lagu.
Lagu untuknya.
Untuk perempuanku.
Makhluk manjaku yang saat ini pasti tengah terlelap syahdu di balik selimut hangatnya.

Cahaya redupmu enggan menampakkan diri.
Bersembunyi di balik awan yang temaram kelam.
Kumpulan awan gelap itu kau jadikan tameng.
Mungkin supaya laguku tak terkecoh karena hadirnya.

Tak apa.
Kemari, lihatlah.
Jangan bersembunyi.
Aku bernyanyi memang agar kau lihat.
Agar kau tahu bahwa aku sedang memiliki rindu yang hebat.
Agar sampaikan padanya tentang ini.
Tentang rindu yang mendekap.
Pada gadisku.

Hujan pun baru saja berhenti.
Hanya tetes-tetes terakhirnya saja yang tersisa di dahan.
Pun di atas atap.
Bumi bagai bosan oleh basahnya sehari.
Tak sejengkal pun tanah kering dibiarkannya.
Mengubah debu menjadi lumpur.

Angin ini.
Terkadang kencang terkadang sayu.
Membawa suara riuh dari kehidupan di seberang sana.
Terkedang jelas terkadang menghilang.
Sesukanya menghadirkan suara itu di telingaku.

Pun suara hewan-hewan malam.
Kini mulai meramai.
Mulai saling bersahutan diantara belukar itu.
Diantara dedaunan basah.
Dan dahan yang tertahan di aliran air yang surut.
Bagai berbicara dengan bahasa yang hanya mereka yang pahami.
Mungkin senang atas hujan yang sudah mereda.
Atau mungkin hanya ingin meriuhkan sepi malam saja?

Kembali padamu, wahai rembulan.
Aku menuliskan ini di jeda letihku bernyanyi.
Di celah lelahku lantunkan banyak dendang.
Kau tak lagi bersembunyi.
Kini jelas menatapku berani.
Aku melihatmu.
Kau melihatku.
Kau melihat dia yang ingin kulihat.
Sampaikan padanya,
"Aku rindu."

Selasa, 30 Januari 2018

Percaya Saja

Ini adalah sesuatu hal yang penting dariku yang sangat perlu untuk kau ketahui, wahai perempuanku.

Aku sangat yakin sedang menyayangimu.
Sangat sadar tengah meletakkan seluruh hatiku padamu untuk kau rawat dan kau pelihara sesukamu.
Mencintaimu dengan kesadaran yang penuh dan tulus sedang kualami kini.
Jadi, jika suatu saat ada seorang sejenismu perempuan yang terlihat akrab denganku, jangan menyimpan prasangka buruk atasku, terlebih memendamnya.

Dia atau siapapun itu bukanlah tandinganmu.
Mereka tak berhak atas tempatmu disini, di hatiku.
Mereka hanya penambah pelengkap kagummu atasku karena aku sebagai lelakimu dibutuhkan untuk membagikan sedikit pengetahuanku tentang kehidupan.
Mereka hanya ingin bercerita dan meminta beberapa saran dariku.
Mereka mungkin akan menangis, tapi dada ini adalah milikmu dan mereka atau siapapun tak berhak menyandarkan kepalanya disitu.
Batasan itu akan tetap kujaga.
Percayalah.

Mereka bahkan mungkin akan meluapkan segala emosinya dengan berbagai cara.
Kuminta padamu agar percaya bahwa aku bisa menanganinya dengan kesadaran penuh bahwa aku sedang dimiliki olehmu.
Aku pasti dibutuhkan oleh siapa saja untuk mereka bercerita tentang hidupnya, bahkan pribadinya.
Jangan membatasiku saat aku mendalami potensiku bahwa pengetahuanku berguna bagi mereka.
Tetapi justru tumbuhkanlah kagummu atasku yang mampu membagikan sebagian kecil pengetahuanku.

Kaulah pemilik hati ini.
Kaulah pemilik segenap tentangku.
Cerita dan upaya yang kuberikan pada mereka masih sangat terlalu sedikit dibanding yang telah dan yang akan kuberikan untukmu.

Padamu bahkan telah kurencanakan masa depanku.
Jadi pantaskah wajah dan dagu cantikmu itu kau rubah ke ekspresi cemberut, cemburu bahkan marah?
Atau, pantaskah aku harus berbagi tempat di hatimu bersama sebulir bibit kecewa di sana?

Tapi di atas semua itu, kau masih berhak melarangku.
Kau berhak menghentikanku melakukan semua itu.
Karena memang kaulah fokusku.
Padamulah selayaknya hati ini tertuju.
Utuh.
Karena aku menyayangimu, perempuanku.
Ya..
Aku sadar sedang menyayangimu.

Senin, 15 Januari 2018

Itu Dagumu...

Kau tahu, kenapa aku suka menatap lama pada wajahmu?
Itu karena dagumu.
Organ cantik yang tercantik yang tercipta di antara organ-organ lain di wajahmu.
Bentuknya indah.
Terlebih saat kau tersenyum.
Runcing dan terbentuk rapi mengikuti lekuk garis senyummu.
Dagumu tercipta sepaket dengan wajahmu.
Dagumu mempercantik organ lainnya.
Dagumu membiaskan cacat yang kasat di sekitarnya.

Jika aku suka menatap lama di wajahmu, itu karena dia.
Karena dagumu.
Dagumu adalah penyebabnya.
Salahkan dia, jangan mataku.
Dialah sumbernya.
Dagumu yang mengundang mataku untuk fokus ke arah wajahmu.
Pesonanya yang menarikku.
Hingga akhirnya matamu mengirimkan sebuah hormon pada otakmu yang menciptakan ephoria tak terkendali.
Kau grogi.
Tak paham antara ingin tersenyum atau bersembunyi.
Dan jika situasi itu berlangsung terlalu lama, dan kau semakin tak paham harus bertingkah apa, otakmu akan memberi perintah pada tanganmu untuk menghardik wajahku.
Lalu momen itu pun usai.
Buyar dan selesai.
Dan aku harus mampu merakit momen itu lagi dari awal.

Dagumu...
Mungkin adalah organ yang dulunya tercipta pertama kali dari antara organ-organ lainnya.
Mungkin dialah yang pertama kali terbentuk saat kau masih embrio.
Melupakan fakta bahwa mulutlah yang pertama kali terbentuk dalam rahim.
Sehingga semua keindahan yang direncanakan untuk seluruh tubuhmu terserap habis olehnya.
Tapi, entahlah.
Itu hanya anggapan liarku semata.
Itu karena dia terlalu indah.
Terlalu cantik untuk dikatakan menjadi sebuah dagu.

Maka, kumohon biarkan tetap begitu.
Biarkan dia tetap indah di tempatnya.
Setidaknya untukku.
Hanya untukku.
Dan biarkan aku tetap mengaguminya.
Menciptakan rasa ketertarikan eksklusif untuknya.
Jangan melarangku menatap lama padanya.
Jadi percuma kau menutup matamu saat aku fokus di wajahmu.
Karena aku masih melihat dagumu.
Karena dagumulah fokusku.
Dagumulah kagumku.
Kini.
Dan nanti.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Maaf, Aku Tak Sengaja

Aku tidak sengaja menyukaimu.
Ini bukan sesuatu yang kurencana di dalam kamarku semalaman.
Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu.
Dan ketika kamu balik melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing terjauh yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga agar kamu tidak tahu aku sedang memandangimu.
Aku takut kamu marah walau sebenarnya kamu selalu tersenyum jika mendapatiku baru saja memandangimu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu.
Itu lebih berharga dibanding berada satu momen dengan Obama sekalipun.
Aku tidak sengaja memiliki sesuatu yang ingin sekali kuceritakan denganmu namun tidak tahu harus memulainya darimana.
Aku tidak sengaja selalu mengundur mengatakannya setiap momen tepat itu datang.
Aku tetap selalu tidak siap meski sudah merencanakannya semalaman dengan sangat sangat matang.
Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama.
Contohnya di Perpustakaan. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus.
Jadi kumohon, buku novel itu dan charger handphone yang kupinjamkan itu jangan kembalikan bebarengan.
Aku rela musti harus berantam dulu dengan teman sekamarku tiap meminjam casan hapenya dan selalu berbohong soal novel miliknya itu.
Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya.
Ketahuilah, disini masih banyak novel bagus milik teman sekamarku.
Semuanya tidak sengaja beralasan begitu saja agar kita tetap bisa bertemu.
Aku tidak sengaja mengaktifkan zat phenylethylamine di dalam sistem otakku saat dekat kamu.
Dan itu memicu euphoria.
Perasaan menyenangkan yang riuh.
Terpicu begitu saja.
Aku bisa merasakan darah mengalir deras di tubuhku, bolak balik seperti angkot yang tidak mau ngetem.
Bahkan ingin sekali aku meminjam rompi anti peluru-nya si Silvester Stallone di pilem Expandebles agar deguban jantungku tidak terlihat dari luar kemejaku.
Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku.
Hal ini memaksa otakku agar kreatif membuat lebih banyak lelucon lagi untuk kamu.
Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja yang kamu daratkan di perutku.
Ini, aku masih punya dada, pundak, lengan bahkan pipi untuk tempat kamu mencubit sesukamu.
Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu.
Aku benci ketika bersama kamu kita terjebak dalam momen hening.
Aku tidak sengaja merasakan dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, selalu singkat, seolah kebersamaan kita begitu menakutkan bagi waktu.
Aku bahkan tidak sengaja tersakiti saat mendengarmu menceritakan soal dia.
Iya, soal laki-laki itu.
Sakit itu teramat aneh, aku tidak tau cara mengendalikannya.
Aku bahkan tidak sengaja menjadi sangat membenci laki-laki itu maski kusadari dia tidak memiliki salah apa-apa padaku.
Ini aneh dan ada begitu saja.
Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan.
Ah, aku tidak sengaja terus membaui wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku itu.
Terus menerus, hingga pagi menjelang.
Bahkan jika harus, aku tidak akan mencucinya.
Handphone-ku adalah benda yang pertama ku-check begitu aku terbangun.
Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya.
SMS-mu yang berbunyi "Met pagi, udah bangun belum?" itu jauh lebih penting dari semua SMS yang masuk ke inboks pesanku.
Meski selalu sama ditiap paginya.
Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.
Hariku akan buruk jika dalam sehari itu aku tidak memandangi hidung pesekmu barang semenit pun.
Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari.
Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.
Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik.
Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit dan kompleks, ataukah alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?
Aku tidak sengaja menjadikanmu "sebab" dalam setiap "mengapa" yang bermuara di benakku.
Sekali lagi maafkan aku, aku tidak sengaja.
Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.
Aku tidak sengaja mencintaimu.

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3