https://cdn.jwplayer.com/libraries/l62vdWIV.js PUISI

Cari:

Selasa, 27 Juli 2021

FOTO DOKUMENTASI

PESTA PAMASUMASUON
DOHOT ULAON ADAT

Sari Tua Simangunsong
&
Irene Dwi Sartika Hutabarat

Lumban Pea - Parsoburan, Kamis 22 Juli 2021



Foto Marhusip huhut Marhata Sinamot:
Klik Di Sini (buka dengan aplikasi Drive jika diperlukan)

Foto Dokumentasi Pamasumasuon dohot Ulaon Adat:
Klik Di Sini (buka dengan aplikasi Drive jika diperlukan)

















Senin, 17 Agustus 2020

Ancient Aliens | Season 01 - Episode 01 | The Evidence

Watch or Download Ancient Aliens

Tonton atau unduh Ancient Aliens Subtitle Indonesia.


Season 01 Episode 01 - BUKTI

   Episode ini menampilkan alien yang melakukan kontak dengan manusia primitif dengan mengutip bukti dari teks Sanskerta India yang diduga menggambarkan mesin terbang yang disebut Vimana, bangunan-bangunan megalitik Mesir yang diduga hasil pekerjaan pemotongan presisi yang dianggap terlalu maju di zaman itu, serta teks Zohar Yahudi yang dikatakan menggambarkan "mesin Manna" yang mirip dengan pemrosesan alga chlorella di masa kini.


Loading the player ...

Jumat, 15 Maret 2019

Kurasa Aku...

Aku masih terjaga
Tak kunjung terlelap
Masih segar rasanya mataku
Ragaku memang sudah letih tapi sepertinya ia masih enggan dikuasai mimpi

Kurasa hanya aku saja seseorang yang belum terlelap saat ini
Hanya aku yang tersisa yang terbangun di bumi ini malam ini
Sangat lengang
Sangat sunyi
Sangat sepi

Riuh siang tadi lenyap sudah
Tak bersisa
Suara orang-orang di jalanan kini sirna
Hanya detik jam dinding ini saja yang kian terdengar jelas
Bagai beradu dengan suara lelah hela nafasku
Suara gelembung air di galon terkadang menyelingi dari belakang
Entah siapa yang menuangkannya di jam segini
Juga suara cicak, sesekali membuyarkan khayalku
Menghilangkanmu sesebentar dari benakku
Serta suara-suara hewan malam yang sepertinya saling bersahutan di bawah jendela kamarku

Malam ini dingin
Meski tak hujan tapi dingin

Kau pasti telah terlelap
Tertidur pulas di balik selimut hangatmu
Mengalami mimpi
Mimpi yang tak pernah kau bisa ciptakan sendiri
Bermimpi meninggalkan ragamu yang letih
Meninggalkan sejenak bumi ini
Meninggalkan kebosanannya
Meninggalkan kerumitannya
Meninggalkan ketidak-adilannya

Seandainya bisa aku tiba-tiba berada di sampingmu saat ini
Di sampingmu yang sedang tertidur
Akan kunyamankan ragamu yang terdiam itu
Kuhangatkan tubuhmu yang sedang tak kau pedulikan itu
Kuawasi dia yang sedang ditinggalkan jiwanya
Kujaga agar tak satu pun mengganggumu bermain dengan bunga tidurmu

Mengelus lembut pipimu lagi
Membelai pelan rambutmu lagi
Mengecup kecil keningmu lagi
Meremas pelan jemarimu lagi

Bak seorang Raja Mesir yang pernah berucap saat melihat anaknya yang sedang pulas di sisinya,
"Kau tertidur nyenyak sekali karena kau tahu bahwa kau dicintai."
Aku juga pasti akan mengatakan itu
Membisikkan itu di telingamu yang sedang tidak kau fungsikan untuk mendengar
Meski kau acuhkan, aku tak peduli
Akan tetap kubisikkan untukmu

Karena...
Kurasa aku...
Rindu.


Jumat, 08 Maret 2019

Ya, Aku Tercukupkan

Jika indah memiliki kata lain yang lebih indah dari indah
Akan kuucapkan untukmu

Jika cantik memiliki kata lain yang lebih cantik dari cantik
Akan kuutarakan padamu

Jika sempurna memiliki kata lain yang lebih sempurna dari kata sempurna
Akan kubisikkan padamu

Karena begitu
Memang begitu
Dirimu

Bukan indah seperti yang kau lihat untuk bisa tampak indah
Bukan cantik seperti yang kau tahu untuk bisa terlihat cantik
Bukan sempurna seperti yang kau mengerti untuk bisa jadi sempurna

Sebagaimana dirimu saja
Sebagaimana kau adanya
Karena kau ibarat porsi yang 'cukup'
Tak kurang, tak lebih

Karena cukup tak harus memiliki kata lain untuk mewakili cukup

Cukup
Ya, aku tercukupkan.

Rabu, 22 Agustus 2018

Selamat Ulang Tahun, Sang Terakhir

Saat semua bertanya;
"Apa yang membuatmu memilihnya?
Apa yang akhirnya membuatmu menjadikan dia pilihan terakhirmu?"

Akan kujawab;
"Dialah tempat ternyamanku.
Padanya aku yakin menunjukkan siapa sebenarnya aku.
Apa cacatku dan lebihku.
Padanya tak kutemukan keluhan atas ketidakmampuanku.
Padanya tak kutemukan caci atas celaku.
Bahkan sebaliknya, ia bangunkan aku.
Membanggakanku saat yang lainnya menyerah atasku.

Padanya semua itu kutitipkan dengan yakin.
Dan dengan indahnya dia menyambutku bersama semua hal burukku.
Dia yang kutemukan tepat tak terlambat.
Dan yang kutemukan tanpa rencana.
Dia disana menungguku tawarkan tulus saat semua sejenisnya harapkan pamrih.
Dia disana menungguku suguhkan senyum saat semua sejenisnya rencanakan tangis.

Parasnya, tak hanya itu indahnya.
Sederhananya, bukan sebatas itu kemampuannya.
Dia tak suka berlebih atau dilebihkan.
Tak butuh diakui dengan cara tinggi.
Dia memberi saat aku tak punya.
Meski itu disaat ketidakpunyaannya.
Dia selalu berusaha sempurna untukku.
Walau sebenarnya tanpa itu dia sudah cukup sempurna.

Dia akan menambal lubang yang ada padaku meski itu harus menciptakan lubang baru padanya.
Dan akan kuupayakan menambal lubang yang ada padanya meski itu juga harus membuat lubang baru padaku.

Dia akan tertawa saat ingin tertawa.
Dia akan menangis saat ingin menangis.
Dia akan bermanja saat aku berhasil ciptakan rasa nyaman di sisinya.
Bahkan dia akan marah saat sesuatu tak menyenangkan kuberikan padanya.
Begitulah dia, sebegitu adanya.
Seadanya.

Dialah perempuanku yang tak lagi malu mengeluarkan suasana hatinya di depanku.
Meluapkan segalanya tanpa malu.
Menjadikan dirinya adalah aku.

Dan jika saja semua tentangnya harus kutuliskan dalam kertas, akan tiada cukup selembar.
Dan kau pasti akan jenuh membacanya".

Itu jawabanku.
Akan kujawab demikian.

Terima kasih Tuhan karena menciptakan makhluk indah sepertinya.
Terima kasih Sayang karena ternyata kaulah sosok itu.

Aku menyayangimu, masih sehebat kemarin.
Bahkan kian hebatnya hari ini.
Yang kuyakin kian hebatnya pula nanti.

Menua sudah dirimu.
Tak lagi muda dan belia.
Tegar, aku tak ragukan itu darimu.
Tetaplah sederhana dan manja.
Tetaplah cemburu dan menyebalkan.
Karena aku suka itu.
Maka tetaplah demikian untuk kita kini.
Untuk kita di ratusan Ulang Tahunmu nanti.

Kaulah kekasihku, sahabat hidupku.
Yang kurencanakan terakhir.

Selamat Ulang Tahun, Sang Terakhir.

Thursday, Aug 23 2018, 02.23 am

Kamis, 01 Februari 2018

Rembulan Menyaksikanku Bernyanyi

Rembulan menyaksikanku bernyanyi.
Melihatku melantunkan gita-gita rindu.
Menatapku yang sedari tadi sendiri merangkai lagu.
Lagu untuknya.
Untuk perempuanku.
Makhluk manjaku yang saat ini pasti tengah terlelap syahdu di balik selimut hangatnya.

Cahaya redupmu enggan menampakkan diri.
Bersembunyi di balik awan yang temaram kelam.
Kumpulan awan gelap itu kau jadikan tameng.
Mungkin supaya laguku tak terkecoh karena hadirnya.

Tak apa.
Kemari, lihatlah.
Jangan bersembunyi.
Aku bernyanyi memang agar kau lihat.
Agar kau tahu bahwa aku sedang memiliki rindu yang hebat.
Agar sampaikan padanya tentang ini.
Tentang rindu yang mendekap.
Pada gadisku.

Hujan pun baru saja berhenti.
Hanya tetes-tetes terakhirnya saja yang tersisa di dahan.
Pun di atas atap.
Bumi bagai bosan oleh basahnya sehari.
Tak sejengkal pun tanah kering dibiarkannya.
Mengubah debu menjadi lumpur.

Angin ini.
Terkadang kencang terkadang sayu.
Membawa suara riuh dari kehidupan di seberang sana.
Terkedang jelas terkadang menghilang.
Sesukanya menghadirkan suara itu di telingaku.

Pun suara hewan-hewan malam.
Kini mulai meramai.
Mulai saling bersahutan diantara belukar itu.
Diantara dedaunan basah.
Dan dahan yang tertahan di aliran air yang surut.
Bagai berbicara dengan bahasa yang hanya mereka yang pahami.
Mungkin senang atas hujan yang sudah mereda.
Atau mungkin hanya ingin meriuhkan sepi malam saja?

Kembali padamu, wahai rembulan.
Aku menuliskan ini di jeda letihku bernyanyi.
Di celah lelahku lantunkan banyak dendang.
Kau tak lagi bersembunyi.
Kini jelas menatapku berani.
Aku melihatmu.
Kau melihatku.
Kau melihat dia yang ingin kulihat.
Sampaikan padanya,
"Aku rindu."

Selasa, 30 Januari 2018

Percaya Saja

Ini adalah sesuatu hal yang penting dariku yang sangat perlu untuk kau ketahui, wahai perempuanku.

Aku sangat yakin sedang menyayangimu.
Sangat sadar tengah meletakkan seluruh hatiku padamu untuk kau rawat dan kau pelihara sesukamu.
Mencintaimu dengan kesadaran yang penuh dan tulus sedang kualami kini.
Jadi, jika suatu saat ada seorang sejenismu perempuan yang terlihat akrab denganku, jangan menyimpan prasangka buruk atasku, terlebih memendamnya.

Dia atau siapapun itu bukanlah tandinganmu.
Mereka tak berhak atas tempatmu disini, di hatiku.
Mereka hanya penambah pelengkap kagummu atasku karena aku sebagai lelakimu dibutuhkan untuk membagikan sedikit pengetahuanku tentang kehidupan.
Mereka hanya ingin bercerita dan meminta beberapa saran dariku.
Mereka mungkin akan menangis, tapi dada ini adalah milikmu dan mereka atau siapapun tak berhak menyandarkan kepalanya disitu.
Batasan itu akan tetap kujaga.
Percayalah.

Mereka bahkan mungkin akan meluapkan segala emosinya dengan berbagai cara.
Kuminta padamu agar percaya bahwa aku bisa menanganinya dengan kesadaran penuh bahwa aku sedang dimiliki olehmu.
Aku pasti dibutuhkan oleh siapa saja untuk mereka bercerita tentang hidupnya, bahkan pribadinya.
Jangan membatasiku saat aku mendalami potensiku bahwa pengetahuanku berguna bagi mereka.
Tetapi justru tumbuhkanlah kagummu atasku yang mampu membagikan sebagian kecil pengetahuanku.

Kaulah pemilik hati ini.
Kaulah pemilik segenap tentangku.
Cerita dan upaya yang kuberikan pada mereka masih sangat terlalu sedikit dibanding yang telah dan yang akan kuberikan untukmu.

Padamu bahkan telah kurencanakan masa depanku.
Jadi pantaskah wajah dan dagu cantikmu itu kau rubah ke ekspresi cemberut, cemburu bahkan marah?
Atau, pantaskah aku harus berbagi tempat di hatimu bersama sebulir bibit kecewa di sana?

Tapi di atas semua itu, kau masih berhak melarangku.
Kau berhak menghentikanku melakukan semua itu.
Karena memang kaulah fokusku.
Padamulah selayaknya hati ini tertuju.
Utuh.
Karena aku menyayangimu, perempuanku.
Ya..
Aku sadar sedang menyayangimu.

Senin, 15 Januari 2018

Itu Dagumu...

Kau tahu, kenapa aku suka menatap lama pada wajahmu?
Itu karena dagumu.
Organ cantik yang tercantik yang tercipta di antara organ-organ lain di wajahmu.
Bentuknya indah.
Terlebih saat kau tersenyum.
Runcing dan terbentuk rapi mengikuti lekuk garis senyummu.
Dagumu tercipta sepaket dengan wajahmu.
Dagumu mempercantik organ lainnya.
Dagumu membiaskan cacat yang kasat di sekitarnya.

Jika aku suka menatap lama di wajahmu, itu karena dia.
Karena dagumu.
Dagumu adalah penyebabnya.
Salahkan dia, jangan mataku.
Dialah sumbernya.
Dagumu yang mengundang mataku untuk fokus ke arah wajahmu.
Pesonanya yang menarikku.
Hingga akhirnya matamu mengirimkan sebuah hormon pada otakmu yang menciptakan ephoria tak terkendali.
Kau grogi.
Tak paham antara ingin tersenyum atau bersembunyi.
Dan jika situasi itu berlangsung terlalu lama, dan kau semakin tak paham harus bertingkah apa, otakmu akan memberi perintah pada tanganmu untuk menghardik wajahku.
Lalu momen itu pun usai.
Buyar dan selesai.
Dan aku harus mampu merakit momen itu lagi dari awal.

Dagumu...
Mungkin adalah organ yang dulunya tercipta pertama kali dari antara organ-organ lainnya.
Mungkin dialah yang pertama kali terbentuk saat kau masih embrio.
Melupakan fakta bahwa mulutlah yang pertama kali terbentuk dalam rahim.
Sehingga semua keindahan yang direncanakan untuk seluruh tubuhmu terserap habis olehnya.
Tapi, entahlah.
Itu hanya anggapan liarku semata.
Itu karena dia terlalu indah.
Terlalu cantik untuk dikatakan menjadi sebuah dagu.

Maka, kumohon biarkan tetap begitu.
Biarkan dia tetap indah di tempatnya.
Setidaknya untukku.
Hanya untukku.
Dan biarkan aku tetap mengaguminya.
Menciptakan rasa ketertarikan eksklusif untuknya.
Jangan melarangku menatap lama padanya.
Jadi percuma kau menutup matamu saat aku fokus di wajahmu.
Karena aku masih melihat dagumu.
Karena dagumulah fokusku.
Dagumulah kagumku.
Kini.
Dan nanti.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Maaf, Aku Tak Sengaja

Aku tidak sengaja menyukaimu.
Ini bukan sesuatu yang kurencana di dalam kamarku semalaman.
Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu.
Dan ketika kamu balik melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing terjauh yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga agar kamu tidak tahu aku sedang memandangimu.
Aku takut kamu marah walau sebenarnya kamu selalu tersenyum jika mendapatiku baru saja memandangimu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu.
Itu lebih berharga dibanding berada satu momen dengan Obama sekalipun.
Aku tidak sengaja memiliki sesuatu yang ingin sekali kuceritakan denganmu namun tidak tahu harus memulainya darimana.
Aku tidak sengaja selalu mengundur mengatakannya setiap momen tepat itu datang.
Aku tetap selalu tidak siap meski sudah merencanakannya semalaman dengan sangat sangat matang.
Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama.
Contohnya di Perpustakaan. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus.
Jadi kumohon, buku novel itu dan charger handphone yang kupinjamkan itu jangan kembalikan bebarengan.
Aku rela musti harus berantam dulu dengan teman sekamarku tiap meminjam casan hapenya dan selalu berbohong soal novel miliknya itu.
Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya.
Ketahuilah, disini masih banyak novel bagus milik teman sekamarku.
Semuanya tidak sengaja beralasan begitu saja agar kita tetap bisa bertemu.
Aku tidak sengaja mengaktifkan zat phenylethylamine di dalam sistem otakku saat dekat kamu.
Dan itu memicu euphoria.
Perasaan menyenangkan yang riuh.
Terpicu begitu saja.
Aku bisa merasakan darah mengalir deras di tubuhku, bolak balik seperti angkot yang tidak mau ngetem.
Bahkan ingin sekali aku meminjam rompi anti peluru-nya si Silvester Stallone di pilem Expandebles agar deguban jantungku tidak terlihat dari luar kemejaku.
Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku.
Hal ini memaksa otakku agar kreatif membuat lebih banyak lelucon lagi untuk kamu.
Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja yang kamu daratkan di perutku.
Ini, aku masih punya dada, pundak, lengan bahkan pipi untuk tempat kamu mencubit sesukamu.
Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu.
Aku benci ketika bersama kamu kita terjebak dalam momen hening.
Aku tidak sengaja merasakan dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, selalu singkat, seolah kebersamaan kita begitu menakutkan bagi waktu.
Aku bahkan tidak sengaja tersakiti saat mendengarmu menceritakan soal dia.
Iya, soal laki-laki itu.
Sakit itu teramat aneh, aku tidak tau cara mengendalikannya.
Aku bahkan tidak sengaja menjadi sangat membenci laki-laki itu maski kusadari dia tidak memiliki salah apa-apa padaku.
Ini aneh dan ada begitu saja.
Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan.
Ah, aku tidak sengaja terus membaui wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku itu.
Terus menerus, hingga pagi menjelang.
Bahkan jika harus, aku tidak akan mencucinya.
Handphone-ku adalah benda yang pertama ku-check begitu aku terbangun.
Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya.
SMS-mu yang berbunyi "Met pagi, udah bangun belum?" itu jauh lebih penting dari semua SMS yang masuk ke inboks pesanku.
Meski selalu sama ditiap paginya.
Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.
Hariku akan buruk jika dalam sehari itu aku tidak memandangi hidung pesekmu barang semenit pun.
Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari.
Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.
Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik.
Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit dan kompleks, ataukah alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?
Aku tidak sengaja menjadikanmu "sebab" dalam setiap "mengapa" yang bermuara di benakku.
Sekali lagi maafkan aku, aku tidak sengaja.
Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.
Aku tidak sengaja mencintaimu.

Rabu, 18 Oktober 2017

Aroma Itu.. Dia Pasti Kekasihku

Tertegun aku.
Kuhentikan sejenak tatapku pada kekasihku.
Kemudian berdiri mencoba menyelidiki sesuatu dengan tatapanku.
“Aroma itu” Gumamku.
Sebuah wangi yang tak asing.
Wangi khas gadisku dimasa lampau.
Wangi yang memang hanya dia pemiliknya.
“Disinikah dia kini?”
Kulihat kearah kerumunan itu.
Memperhatikan tiap celah lalu lalang orang-orang disana.
“Mungkinkah dia?”
Tak kudapat.
Tak kutemui dia.
Akupun terduduk.
Lalu kugenggam jemari wanita disampingku.
“Kaulah kekasihku kini”
Dia hanya tersenyum bingung.

Minggu, 15 Oktober 2017

Hatiku, Menangislah!

Menangislah, hai hatiku!
Aku tak melarangmu
Kau memang butuhkan itu
Tak selamanya getir dunia tertaklukkanmu
Tak selalu penatnya hidup terpahamimu

Menangislah
Terkadang kelopak matamu memang perlu terairi
Terkadang layak isak itu lampiaskan duka terwakili
Teriakkan jika harus
Gemuruhkan bila mampu duka itu terhapus

Tapi jangan dirundung
Karena harimu tak boleh selalu mendung

Puaskan seketika
Sudahi lalu ambil pelita
Tak layak kau lama menderita
Karena tersedia bagimu lebih banyak cerita

Hatiku, menangislah!
Tak apa
Menangislah!

Minggu, 10 September 2017

Hai, Kau Yang Jauh Disana!

Hai, kau yang jauh disana!
Yang padamu kuletakkan rasa percaya dan cintaku.
Sedang apa?
Apa sedang memikirkanku juga seperti yang kulakukan saat ini?
Aku merindukanmu.
Sangat merindukanmu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Yang terpisah oleh jarak denganku.
Aku tahu kita jauh.
Tapi kau adalah yang terdekat dari apa yang paling dekat denganku.
Jarak ini hanya sementara.
Percaya saja.
Karena aku yakin itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Bagaimana harimu hari ini?
Apakah membosankan?
Mengecewakan?
Jenuh tanpaku?
Hahaaa...
Disini aku juga bosan tanpamu.
Hariku tak pernah luar biasa lagi tanpamu.
Karena kaulah luar biasa-ku.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Bertahanlah.
Karena aku juga bertahan untukmu.
Karena semua mimpi kita terlalu sayang jika kurusak hanya karena rasa bosanku.
Takkan kurusak itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Mimpi itu masih kupegang, kok.
Bahkan sangat erat.
Lebih erat dari balon hijau.
Heheee...
Meski banyak uji mendekatiku.
Banyak sosok yang datang tawarkan kelebihannya.
Bahkan tak bisa kubohongi kalau mereka memang melebihimu.
Tapi tenanglah!
Aku sudah sangat tercukupkan olehmu.
Aku akan berhenti padamu.
Kau mencukupkanku.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Meski tak dapat kusentuh,
Tapi wajah dan suaramu sudah lebih dari cukup untukku menutup hari ini.
Mencandakan hal yang sama berulang-ulang di telepon denganmu, masih menyenangkanku.
Kau adalah hal terakhir yang kupikirkan sebelum aku tertidur.
Senyumku masih tentang kita sesaat sebelum aku menutup mata.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Selamat pagi!
Kau sosok pertama yang kupikirkan begitu aku terbangun tadi.
Iya, kau!
Terima kasih untuk tawa hangat semalam.
Terima kasih untuk caramu yang fokus membuatku tertawa.
Aku suka dan aku tahu,
Kau sungguh mengupayakan segalanya untukku.
Dalam pikiranmu penuh tentang rencana-rencanamu membahagiakanku.
Aku percaya itu.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana.
Berceritalah jika kau sampai rasakan hal lain atasku.
Karena aku tak bisa menatap bahasa tubuhmu jika aku membuatmu tak nyaman.
Ceritakan denganku.
Bahas segalanya padaku.
Bahkan jika itu tentang keburukanku.
Karena hanya padamu aku berani tampil jelek dan manja.
Hanya padamu aku berani menunjukkan siapa sebenarnya aku.
Si roa balang ini.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Kau tahu?
Aku paling rindu baumu saat ini.
Iya, bau tubuhmu!
Bau yang kurasa hanya kau pemiliknya.
Bau yang membiasakanku.
Yang aku terbiasa menjalani hariku dengannya.
Masih tersisa di boneka ini.
Di boneka pemberianmu yang makin mengempis.
Walau baumu padanya makin pudar, tapi aku masih bisa mengingatnya.
Karena baumu adalah satu-satunya bau yang bisa kuingat.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana.
Berdoalah untukku, untuk kita.
Karena aku juga berdoa untukmu, untuk kita.
Karena hanya dengan Doa, aku paham caraku mencintaimu dari jauh.
Namamu jauh lebih banyak kusebutkan dalam doaku melebihi namaku sendiri.
Sungguh!

Hai, kau yang jauh disana!
Terima kasih.
Terima kasih untuk segalanya.
Terima kasih karena telah menemukanku.
Terima kasih karena telah memilihku.
Aku...
Mencintaimu.
Sungguh!

Fri, Sept 08, 17

Minggu, 27 Agustus 2017

Berhati-hatilah, Hati!

Ketika kau memancing ikan...
Kemudian ikan melekat di mata kailmu.
Ambillah.
Jangan lepaskan lagi begitu saja ke air.
Karena ia telah sakit oleh tajam mata kailmu.
Dan ia akan bawa luka itu selama hidupnya.

Pun kau...
Ketika berani katakan cinta.
Setelah beri harap banyak padanya.
Setelah ia mulai berikan hatinya.
Kau harus jaga itu.
Jangan tinggalkan begitu saja.
Karena akan luka ia oleh kenangan itu.
Dan mungkin saja membawanya sepanjang hidupnya.

Jika kau punya lukisan cantik...
Anggap ia perhiasan belaka.
Sekedar saja.
Jangan puja indahnya dengan terlalu.
Karena jika menganggapnya tercantik tanpa cela.
Maka patahlah hatimu saat temukan satu bahagian rusaknya.
Pembuangan akan menjadi tempat akhirnya.
Namun jika saja kau coba perbaikinya.
Mungkin ia akan tetap indah.
Berkuranglah sedikit sakit di hatimu.

Pun kau...
Ketika mengenal seseorang.
Anggaplah ia biasa.
Cintamulah yang jangan biasa.
Indahkan dengan cara berbeda.
Taruh cintamu pada ia dengan apa adanya.
Jangan kagumi dengan terlalu.
Karena jika begitu.
Maka saat sekali saja ia lakukan salah.
Kau takkan terima.
Kau pun murka lantas mengakhirinya.
Padahal jika saja kau maafkan.
Takkan putus bagimu kebahagiaan.
Indah yang mungkin berlebih dari sebelumnya.

Jika tersedia bagimu sepiring nasi.
Yang baik bagimu.
Yang memang kau butuh.
Mengenyangkanmu.
Jangan kutuk kesederhanaannya.
Lantas mencari nasi lain.
Kelezatan lain yang melebihinya.
Sibuk mengupayakan yang lebih nikmat.
Suatu saat...
Dikala kau sibuk dalam pencarianmu.
Mengacuhkan nasimu.
Ia akan termakan waktu dan basi.
Dan tak mungkin bagimu memakannya lagi.
Sesal 'kan kau dapati.

Pun kau...
Setelah bertemu seseorang.
Yang bawa banyak kebaikan padamu.
Yang menaruh segala cintanya atasmu.
Yang sayangimu dengan hatinya.
Yang kasihimu dengan caranya.
Mengapa kau sia-siakan?
Mengapa kau acuhkan?
Mengapa kau coba bandingkan dengan yang lain?
Mengapa terlalu sibuk kejar kesempurnaan?
Hingga nasi itu termakan waktu lantas berubah rasa.
Lantas siapa dirimu yang berhak atas kesempurnaan itu?
Kau hanya akan merusak sempurnanya dengan hadirmu yang tidak sempurna.

Pahami saja porsimu.
Kenali batasanmu.
Yang Kuasa selalu sediakan hal yang layak untukmu.
Pun Dia akan jauhkan yang tak layak atasmu.

Maka...
Mencintalah saat siap.
Berhentilah saat tercukupkan.

Miss You so Much, Daddy

Oleh: Mispa Risky Simorangkir

Sejenak merindukannya disini
Saat bahagia kulalui tanpanya
Saat sedih kulalui tanpanya
Saat semua harus kujalani sendiri

Malam sendu pilu hingga dingin kadang mengganggu
Canda tawa hilang dan terhempas
berlalu bersama angin
Tak ada lagi cerita seru itu, tidak ada lagi berbagi pengalaman
Meski semua harus berlalu, selalu ada
rasa rindu disini

Semua begitu indah
Pelupuk mata selalu basah mengenangnya
Kilasan bayangan akan sosok dirinya
Akan selalu ada dalam relung hati terdalam

Ayah...
Aku rindu kebersamaan yang sudah jarang kutemui

Untukmu ayah, aku merindukanmu disini
Untuk selalu menguatkanku dalam menjalani hidup

Miss you so much, Daddy.

Minggu, 20 Agustus 2017

Selamat Malam, Malam.

Selamat malam, kau...
Sudahkah lelap kau tertidur?
Sudahkah jauh kau bermimpi?
Tentang apa kali ini?
Tentangkukah?
Tentang diakah yang kini sudah berhak membuatmu bahagia?
Atau tentang harimu yang selalu membosankan itu?
Sepenat apa kau hari ini?
Bagaimana kau tadi menutup hari?

Selamat malam, rindu...
Ini bukan tentangmu.
Bukan karenamu aku mengadu.
Pun akhirnya tuliskan baitku.
Dia hanya terlintas sesaat hingga kutuliskan ini.
Bukan karena hal yang tertahan dan bersisa.
Aku hanya sudah terbiasa memastikannya baik-baik saja.

Selamat malam, malam...
Awasi dia saat terlelap.
Jaga raganya yang ditinggal bermimpi.
Hangatkan dia di balik selimut hangatnya.
Dan bangunkan dia untuk pagi sesok yang masih membosankannya.

Siapa pun kau yang kini sudah berhak ciptakan bahagia untuknya...,
Selamat malam juga untukmu.
Bahagiakan dia.
Karena tugasku sudah usai.
Sudah selesai.

Selamat malam, kalian.



Senin, 29 Mei 2017

Aku Ingin Menciumimu, Seharian

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menunjukkan kasihku lewat kecupku pada kulitmu.
Menunjukkan betapa inginnya aku selalu bersamamu.
Bermanja sehari penuh pada ragamu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menghirup aroma khas yang hanya tubuhmu pemiliknya.
Sebuah aroma yang hanya dirimu sang empunya.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Meniadakan segalanya untuk sesaat dari dalam benak ini.
Mengosongkan kalbu.
Melenyapkan segalanya sekejap.
Dan mengisinya dengan segala tentangmu.
Fokus padamu dan aromamu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Mengenalimu jiwamu dengan lebih dalam lewat hening.
Lewat momen yang tanpa kata namun intim.
Lewat bahasa tubuh yang hanya kita berdua pemahamnya.
Hening dan senyap yang bicara.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Menyapukan lembut bibirku pada seluruh permukaan kulitmu dan mendengarmu melantunkan desah dengan nada yang tak beraturan.
Membakar gairahmu dengan nafasku yang pasti hangat ini.
Meresapi setiap detak jantung itu.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Hanya menciumimu.
Membisikkan gelora pada tubuhmu bahwa tubuh itu yang kini aku mau tiada yang lain.
Bahwa sungguh porsiku telah terpuaskan oleh bentuk dan aromanya.

Aku ingin menciumimu seharian.
Tak ingin yang lain.
Ya!
Karena aku memang ingin menciumimu seharian.

Senin, 17 April 2017

Gaduhku

Aku menuliskan sajak ini ditengah kegaduhanku.
Menuliskannya disaat kegusaran terhebatku.
Ditengah guruhnya polemik dalam benakku.
Dan dicelah antara pilihan untuk menyerah.
Dan selangkah lagi untuk memilih pasrah.
Saat ini semua bak musuh.
Semua ibarat puas limpahkan ketidak-adilan dipundakku.
Sendiri dan sepi.
Ibarat tak berikan tempat untuk mengeluh mengadu.
Ingin bercerita.
Namun tak kuasa.
Jikapun kuasa takkan ada yang mau mendengarkan.
Dosa hebat apa yang dulu pernah terjadi hingga karmanya kupikul kini.
Hampir murka pada Tuhan.
Nyaris menbenciNYA.
Aku lelah.
Aku letih Tuhan.
Namun aku tak berniat berhenti.
Makhluk manis itu sajalah yang mampu membuatku berdiri.
Masih ada sukur untukMU atas hadirnya.
Terimakasih Tuhan atas adanya.
Atas kesempurnaanMU yang masih kurasa dalam dirinya.
Sepertinya hanya dia sajalah yang ada dipihakku kini.
Makhluk manis itu kekasihku.
Dia perempuanku.
KAU hadir dalam bentuk keindahan sosoknya.
Dan hanya karena dia sajalah aku masih mau untuk bangkit.
Dan kemudian akan kucoba melangkah untuknya.
Dan berniat berlari meski letih.
Meski tertatih.
Terimakasih Tuhan.
Terimakasih sayang.
Aku akan berlari.
Ya..
Aku akan berlari.
Lihat saja.


Jumat, 07 April 2017

Masih Khayal Ini

Mengacak khayal.
Memilah bayang-bayang mereka.
Memaksa temukan sebuah sosok.
Itu sosokmu.
Mencarimu yang sempat terrekam dikebersamaan kemarin.
Mana kiranya yang tampak jelas untuk kujadikan sahabat malam ini?
Mungkin itu sudah kulamunkan kemarin malam.
Atau bahkan kemarin lusa.
Tapi itu tetap akan memuaskanku malam ini.
Sama seperti biasanya.
Hhh..
Janganlah cepat hai kantuk kau menjemput.
Aku jenuh takluk olehmu dan kemudian bermimpi.
Selalu bermimpi.
Aku ingin mengkhayal.
Biarkan aku mengkhayal.

Jumat, 10 Maret 2017

Aku Suka Hujan

Dan akhirnya hujan itu pun datang.
Siap membasahi bumi.
Mengguyurnya sesukanya.
Hingga tak sisakan celah kering di tanah.

Aku suka hujan...
Aku suka aroma yang dibawanya.
Aku suka suara yang diciptakannya.
Aku suka suasana yang dihadirkannya.
Hujan adalah sahabat bagi mereka si penyendiri.
Hujan adalah teman bagi mereka si pengkhayal.
Karena hujan akan selalu hadir membawa gumam.
Membawa lamun.
Membawa khayal dalam benak.

Aku suka hujan...
Karena aku suka berkhayal.
Seperti saat ini...
Dia menyeret segalanya ke dalam benak ini.
Menyeretmu, menyeret dia, menyeret siapa saja yang tiba-tiba hadir dalam otak ini.

Aku suka hujan...
Karena ini momenku untuk mengenal diriku sendiri.
Dan mengenal mereka yang telah pergi.

Aku suka hujan...
Ia membuat riuh orang-orang di jalanan menyepi.
Menepi.
Lalu menciptakan lamun mereka sendiri.

Aku suka hujan...
Karena hanya hujan yang kurasa paling mengenalku.
Bukan engkau, bukan dia, bukan siapa saja.
Hanya hujan.

Aku suka hujan...
Ya...
Aku suka hujan.

Saputra Nainggolan - Hasian.mp3