Aku mengenal hatimu jauh sebelum aku mengenal sifatmu. Aka memandang indahnya sederhanamu bukan rupamu. Kemudian aku alami rasa ini. Rasa yang bukan aku ciptakan sendiri. Rasa yang datang perlahan dan bukan instan, dan aku yakin ini sejati. Rasa yang memaksaku untuk kau mengetahuinya.
Awalnya ku jelaskan semua itu lewat bahasa tubuhku, dan kau menyambutnya dengan sempurna. Kau membuka sedikit jalan untuk aku bisa masuk ke dalam sana. Sampai suatu ketika momen itu datang, "Jadilah kekasihku". "Tunggu" itulah jawabmu.
Beberapa masa kita lewati tanpa ikatan, kita menikmtinya begitu saja. Beberapa keindahan kita lalui tanpa sebuah komitmen. Dan kita bahagia. Layaknya yang lain, kita merasa sempurna. Indah memang. Ya memang indah.
Hingga saatnya aku butuh sesuatu yang benar benar mengikat. "Jadilah kekasihku" ku ulang lagi kalimatku yang aku bahkan sudah lupa kapan terakhir mengatakannya. Tapi apa yang ku dapat? Kau bahkan belum menggubrisku. Kau ubah topik secepat kau mengubah senyummu. Kau eratkan pelukanmu sambil membahas sesuatu yang beda dari harapku.
Aku lelah, tak seharusnya aku menggenggam tanganmu. Tak selayaknya aku mendekapmu. Dan tak sepantasnya aku menciummu. Karena semua itu belum hakku.
Menangislah disana seperti saat aku menangis selama ini. Agar kau tau bahwa begitulah aku selama ini. Kau memang melihat aku tertawa, bercanda, tersenyum bahagia. Tp taukah kau isi hatiku? Aku remuk tiap kali aku menatapmu tersenyum oleh pujianku sendiri. Aku merasa sakit tiap aku berhasil membuatmu tertawa lepas oleh canda canda basiku. Dan aku merasa bersalah tiap kali usai menciummu.
Mengrtilah.. Aku tak mau kita teruskan hal bodoh ini. Aku tak harapkan ini. Bukan ini yang aku mau. Sakit memang jika nanti kau menolakku karena aku terus memaksamu, Taph ketahuilah aku TENGAH rasakan sakit yang lebih teramat atas status kita seperti ini.
Tapi.. Kalau aku boleh berkata jujur, aku belum siap meninggalkanmu. Aku belum cukup tegar untuk hal ini. Tapi..
Arrggghhhh..
Aku bingung, tersesat dalam harapanku.
God, help me.
Aku mencintai dia. Aku takut sekali kehilangan dia. Tapi aku sadar aku tak boleh teruskan kebodohan kami ini.
Mana yang sebaiknya aku lakukan? Meninggalkan dia dan mengubur rasaku yang teramat kuat ini? Atau meneruskan ke"ilegal"an kami???
Awalnya ku jelaskan semua itu lewat bahasa tubuhku, dan kau menyambutnya dengan sempurna. Kau membuka sedikit jalan untuk aku bisa masuk ke dalam sana. Sampai suatu ketika momen itu datang, "Jadilah kekasihku". "Tunggu" itulah jawabmu.
Beberapa masa kita lewati tanpa ikatan, kita menikmtinya begitu saja. Beberapa keindahan kita lalui tanpa sebuah komitmen. Dan kita bahagia. Layaknya yang lain, kita merasa sempurna. Indah memang. Ya memang indah.
Hingga saatnya aku butuh sesuatu yang benar benar mengikat. "Jadilah kekasihku" ku ulang lagi kalimatku yang aku bahkan sudah lupa kapan terakhir mengatakannya. Tapi apa yang ku dapat? Kau bahkan belum menggubrisku. Kau ubah topik secepat kau mengubah senyummu. Kau eratkan pelukanmu sambil membahas sesuatu yang beda dari harapku.
Aku lelah, tak seharusnya aku menggenggam tanganmu. Tak selayaknya aku mendekapmu. Dan tak sepantasnya aku menciummu. Karena semua itu belum hakku.
Menangislah disana seperti saat aku menangis selama ini. Agar kau tau bahwa begitulah aku selama ini. Kau memang melihat aku tertawa, bercanda, tersenyum bahagia. Tp taukah kau isi hatiku? Aku remuk tiap kali aku menatapmu tersenyum oleh pujianku sendiri. Aku merasa sakit tiap aku berhasil membuatmu tertawa lepas oleh canda canda basiku. Dan aku merasa bersalah tiap kali usai menciummu.
Mengrtilah.. Aku tak mau kita teruskan hal bodoh ini. Aku tak harapkan ini. Bukan ini yang aku mau. Sakit memang jika nanti kau menolakku karena aku terus memaksamu, Taph ketahuilah aku TENGAH rasakan sakit yang lebih teramat atas status kita seperti ini.
Tapi.. Kalau aku boleh berkata jujur, aku belum siap meninggalkanmu. Aku belum cukup tegar untuk hal ini. Tapi..
Arrggghhhh..
Aku bingung, tersesat dalam harapanku.
God, help me.
Aku mencintai dia. Aku takut sekali kehilangan dia. Tapi aku sadar aku tak boleh teruskan kebodohan kami ini.
Mana yang sebaiknya aku lakukan? Meninggalkan dia dan mengubur rasaku yang teramat kuat ini? Atau meneruskan ke"ilegal"an kami???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar